Universitas Gadjah Mada Writing for Healing
  • BERANDA
  • TENTANG
  • KISAH
  • VIDEO
  • Beranda
  • kisah3
  • PERTARUNGANKU MELAWAN INFORMASI VIRUS COVID-19

PERTARUNGANKU MELAWAN INFORMASI VIRUS COVID-19

  • kisah3
  • 15 October 2020, 21.40
  • Oleh: sitiqotijah2018
  • 0

Saya adalah seorang ibu dan karyawan di kota Yogyakarta. Tak ada seorangpun yang akan mengetahui suatu musibah yang akan terjadi di dunia ini dan hanya Tuhan lah yang maha mengetahui segala sesuatunya. Awal tahun kali ini memang berbeda, memasuki awal tahun 2020 kita semua sudah dihadapkan dengan adanya berita virus COVID-19 pertama kali yaitu di Wuhan, China. Pada saat itu saya terus mengikuti perkembangan informasi mengenai virus COVID-19. Media Sosial Informasi saat ini telah berkembang sangat pesat, sehingga informasi bisa kita dapatkan dengan cepat dan mudah. Beragam informasi mengenai virus COVID-19 dikemas dari berbagai sumber, mulai dari sumber yang terpercaya hingga berbagai sumber dari asumsi pribadi seseorang. Saya akan berbagi pengalaman yang saya alami berkaitan dengan  informasi COVID-19 yang beredar dan pengaruh informasi tersebut yang berkaitan dengan diri saya pribadi. Sejak diberitakannya virus COVID-19 ini saya pribadi terus mengikuti perkembangannya, mulai dari membuka youtube dan membaca berbagai artikel berita maupun informasi dalam bentuk video, foto, dan cerita-cerita yang di forward dan share melalui whatsapp group mengenai perkembangan terkini virus COVID-19. Mulai dari epidemi hingga virus COVID-19 ini di kategorikan sebagai pandemi, dimana virus atau penyakit ini telah menyebar secara global di seluruh negara dunia. Dari berbagai informasi yang saya dapatkan, bahwa bahaya yang paling serius dari virus COVID-19 ini yaitu dapat mengganggu sistem pernapasan akut berat.  

Kasus positif COVID-19 di Indonesia pertama kali diberitakan pada 2 Maret 2020, ketika dua orang terkonfirmasi tertular virus COVID-19 dari seorang warga negara Jepang. Saat diberitakan kasus positif sudah terkonfirmasi di Indonesia tersebut, tentunya saya semakin mawas diri dan berhati-hati. Berbagai fikiran tentang apa yang akan terjadi di Indonesia, bagaimana kedepannya, dan kapan pandemi ini akan berakhir?? Hal tersebut terus menerus terlintas di fikiran saya. Selain itu saya juga seorang ibu yang tentunya hal yang paling pertama saya pikirkan adalah anak, sebagai seorang ibu sudah jelas bahwa keselamatan dan masa depan anak adalah yang paling utama. Bagaimana saya bisa menjaga anak dan keluarga saya agar tetap aman dari virus COVID-19?? terus menerus pertanyaan-pertanyaan kekhawatiran dan kecemasan saya terus bermunculan. Berbagai berita informasi mengenai COVID-19 semakin terus-menerus saya cari kemudian saya tonton dan baca. Hari demi hari berlalu, akan tetapi pemberitaan mengenai kasus terkonfirmasi positif di Indonesia terus bertambah. Dimana setiap harinya diumumkan melalui televisi oleh juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 yaitu Bapak Achmad Yurianto mulai dari yang terkonfirmasi jumlah total positif, pasien yang telah sembuh, dan yang meninggal dunia. 

Pikiran sayapun mulai kacau diliputi rasa gelisah, khawatir, cemas dan sempat stress akan pemberitaan yang saya ikuti terus-menerus mengenai COVID-19. Pada akhirnya sakit asam lambung saya kambuh, karena saya mempunyai riwayat penyakit asam lambung. Pada akhirnya suami saya menanyakan apa yang saya alami dan membuat pikiran saya stress hingga jatuh sakit, kemudian saya menceritakan kekhawatiran dan kecemasan saya  terhadap musibah pandemi ini kepada suami. Suami menenangkan dan memberikan motivasi kepada saya  agar tetap semangat di tengah pandemi. Saya mengikuti petuah dari suami dan merenungi sikap yang telah saya lakukan, yang justru sikap saya tersebut membuat saya terus berpikir yang tidak-tidak dan tanpa saya sadari bahwa berita dan berbagai macam informasi tersebut mempengaruhi pikiran dan psikis mental pada diri saya sendiri. Setelah seminggu terbaring sakit, saya sangat bersyukur karena Tuhan masih memberi saya nikmat sehat. Dari yang telah saya lakukan, membuat saya berpikir kembali bahwa apa yang saya lakukan tersebut adalah salah.  Terlalu sering dan terus menerus mengikuti berita dari semua informasi yang beredar tentang COVID-19 membuat saya akan berpikir yang tidak-tidak atau parno dan tidak fokus dengan hal lain, sehingga hal tersebut dapat merugikan diri saya sendiri dan bahkan dapat menurunkan imun. Berbagai informasi yang telah saya baca maupun video yang telah saya lihat mengenai COVID-19 tersebut bahkan belum tentu kebenarannya, sehingga saya mulai untuk mengatur diri saya dalam melakukan kegiatan bermedia sosial dan pencarian informasi secara benar. Saya memulai cara baru dalam mencari informasi mengenai COVID-19 ini yaitu dengan melihat informasi sesekali saja dalam seminggu tidak terus menerus dan melihat informasi hal-hal yang positif berkaitan dengan COVID-19.

Bulan Ramadhan akan tiba tepat pada tanggal 24 April 2020, akan tetapi COVID-19 masih terus menerus mengalami peningkatan dan pemberitaannya masih menjadi isu hangat di berbagai media sosial. Bulan ramadhan tahun ini memang berbeda, karena kegiatan seperti shalat tarawih, buka bersama, dan berbagai pengajian yang biasanya dilakukan secara bersama-sama kini menjadi lebih personal. Meski demikian, saya dan keluarga menjalaninya dengan penuh kehikmatan. Pada bulan suci Ramadhan kali ini saya gunakan dengan berbagai hal yang lebih positif dan bermanfaat untuk mengalihkan pikiran, walaupun sesekali saya tetap mengikuti perkembangan informasinya. Saya melakukan kegiatan pada bulan suci ini seperti shalat berjamaah tarawih dengan keluarga, membersihkan rumah bersama-sama, berolahraga bersepeda keliling kampung, bercengkrama dengan anak, dan bekerja dilakukan secara WFH (Work From Home). Tentunya saya dan keluarga juga melakukan kegiatan dengan masyarakat sekitar yaitu dengan melakukan kegiatan sosial saling gotong-royong di tengah pandemi ini. Bulan suci ramadhan berlalu dan hari kemenangan Idul Fitri tiba, walaupun di tengah pandemi kami tetap melakukan kegiatan Idul Fitri di rumah dengan keluarga besar terdekat saja. Asal saya dengan suami berbeda daerah, sehingga biasanya ketika Idul Fitri kami pasti  pulang kerumah suami (mudik), akan tetapi lebaran kali ini kami tidak bisa mudik. Kami hanya bisa bersilaturahmi dengan keluarga suami secara virtual via video call, tentunya di tengah situasi pandemi seperti ini semua keluarga suami dapat memahami dan semua itu untuk kebaikan dan kesehatan bersama. Senyum tawa, saling bersahut permintaan maaf, dan tangis pun pecah di video call saat itu dengan keluarga besar apalagi ibu suami saya yang terus berurai air mata akan rindunya kepada kami, karena kami bisa mudik biasanya hanya satu tahun sekali di saat Idul Fitri.

Pandemi COVID-19 tidak selalu menyangkut hal-hal yang menyedihkan, banyak sekali pelajaran dan hikmah di balik pandemi ini yang dapat saya ambil dari berbagai kejadian yang saya alami. Pada awalnya saya sampai stress akan pemberitaan yang terus menerus saya ikuti, tetapi ketika saya selalu berpikir dan melakukan hal-hal yang positif/produktif maka pikiran dan hati saya juga akan lebih tenang. Pada masa pandemi ini mengingatkan saya akan lebih bersyukur atas nikmat sehat yang selama ini mungkin saya abaikan. Intropeksi diri dengan menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, dan  lebih peka atau peduli dengan orang-orang di sekitar kita. Pandemi COVID-19 juga mengajarkan kepada saya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, bahwa semua yang ada di bumi/dunia ini adalah milikNya dan apa yang akan terjadi kepada saya dan kita semua itu atas kehendak Tuhan. Berpasrah diri dengan apa yang akan terjadi  merupakan kunci utama agar menjadi makhluk yang selalu mengingatNya. Tentunya kita juga harus tetap berusaha dan terus berikhtiar agar dapat terhindar dari virus COVID-19 ini, yaitu dengan mematuhi dan berupaya menjalankan apa yang sudah di anjurkan oleh pemerintah diantaranya yaitu dengan melakukan social/physical distancing, menggunakan masker, tidak melakukan kegiatan berkerumun, dan keluar rumah jika keperluan medesak saja. Demikian cerita dan pengalaman saya di masa pandemi COVID-19 ini,  kita harus patuh, kuat dan saling bersinergi untuk membantu tenaga medis yang berjuang di garda terdepan.

Penulis: Tri Andika Oktaviela

 

Sumber: gambar depan dari internet

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Recent Posts

  • WfH
  • TEGAR
  • SEPENGGAL KISAH Ph.D. SELAMA PANDEMI COVID-19
  • IMAN DAN IMUN
  • AKU DAN ANAKKU

Archives

  • May 2021
  • April 2021
  • October 2020
  • September 2020
  • August 2020
  • July 2020

Categories

  • About
  • Edukasi
  • Guest Writers
  • Kisah
  • Kisah2
  • kisah3
  • Video
Universitas Gadjah Mada

Tim Pengabdian Sekolah Vokasi,

Universitas Gadjah Mada

Gedung Iso Reksohadiprodjo, Sekip Unit 1,

Caturtunggal Depok, Sleman, Yogyakarta 55281

       wfh.sv@ugm.ac.id

       0274-541020

 

 

  • Tentang Kami

Informasi

© 2020 Writing for Healing

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY