Jumat, 7 Maret 2020 menjadi babak baru kisahku. Senja mengantarkanku dari Kota Hujan menuju Ibu Kota dengan menggunakan KRL relasi Bogor-Jakarta Kota. Bersama tiga sahabat terbaik, ku mantapkan hati untuk pulang menyambut mimpi.
Sengaja kupilih gerbong KRL laki-laki yang biasanya lebih berempati daripada gerbong khusus wanita. Bukan bermaksud egois, tapi aku kasihan dengan seorang teman wanita yang rela mengantar kepergianku hingga ke Stasiun Senen, Jakarta.
Kereta Mataram Premium membawaku kembali ke Jogja. Kota yang terbuat dari rindu. Sepanjang perjalanan, ku pasang headset sambil memutar tembang kiriman sahabatku, Akbar namanya.
Tembang berjudul ‘Kinanthi’. Kelak, judul lagu ini menjadi judul bagi calon putriku sekaligus menjadi anak ketiga hasil buah cinta kami.
Yah, Kinanthi sebuah kata yang sangat berarti. Perlahan-lahan mulai kuhafal liriknya di sepanjang jalan itu,
Pelita, kemuning, kita
Di kala di usainya senja ohhhh,
Semilir, dimulai sukma
Semoga tersalingkan rasa
Meluruhkan gulita
Kelabu segera berganti
Kinanthi….
Kinanthi….
Tiba di Jogja, aku disambut keluarga kecilku. Keluarga yang membuatku kuat. Meski aku harus terpisah sesaat untuk menjalankan tugasku sebagai abdi Negara di Kota Bogor, Jawa Barat sejak dua tahun lalu.
Di suatu malam aku bermimpi bertemu dengan Punakawan. Yang aku ingat, kepala dan pandangannya selalu menghadap ke atas. Ya, setelah aku ingat-ingat ia dikenal sebagai tokoh Semar.
Semar sempat memberiku petuah untuk senantiasa menjalankan puasa dengan baik. Mimpi bertemu Semar selalu membayangiku setiap mengawali hari.
Ku lihat kalender, Rabu Legi, 11 Maret 2020. Belum sempat kuambil air untuk berwudhu, tiba-tiba saja perut terasa mulas dan bercak darah bercampur lendir.
Seketika wajahku menjadi pucat. Oh.. Tuhan pertanda apakah ini? “Apakah benar ini sudah waktunya?” pikirku. Bukankah masih dua minggu lagi.
Pagi itu, aku masih saja dengan rutinitasku sebagai seorang ibu rumah tangga dengan dua jagoan. Mulai dari memasak nasi, mencuci baju, menyetrika, menyiapkan sekolah untuk si sulung, dan kegiatan lainnya.
Tepat pukul 09.00 WIB kulihat jam dinding berjalan begitu lambat, mungkin karena rasa mulas bercampur was-was menghantui pikiranku. Aku langsung meminta suamiku untuk membawaku ke rumah sakit. Semua perlengkapan sudah siap. Motor juga sudah siap.
Namun, di tengah perjalanan ada saja tingkah anakku. Mainannya jatuh dan terlindas mobil. Rusak. Ya, tentu saja nangis bukan kepalang. Mau aku tinggal di jalan, takut diculik. Apalagi bikinnya butuh waktu yang lama. Hehe.
Aku sambil meringis menahan sakit. Sakit karena sudah waktunya untuk lahiran. Meski sudah kunasehati. Tapi, tak mempan juga. Terpaksa, kami keliling dulu mencari mainan
Kami pun berputar arah. Lumayan jauh. Padahal, jarak ke rumah sakit tingga sedikit lagi sampai. Kami berusaha menyambangi beberapa toko hanya sekadar mencari sebuah mainan pistol air yang ukurannya sebesar jari telunjuk orang dewasa
Setelah pistol air didapat, kami lantas tancap gas menuju rumah sakit. Di sana kami disambut dengan baik dan ramah oleh perawat jaga yang ada. Sembilan jam menunggu. Sayup-sayup lantunan shalawat pertanda adzan Magrib segera tiba.
Tepat pukul 17.55, momen yang kami tunggu akhirnya tiba. Alhamdulillah, bayi kami lahir dengan sempurna, cantik dan berkharisma. Bayi cantik ini merupakan perwujudan cinta kami, pelengkap keluarga kami. Bayi mungil itu kami beri nama ‘Kinanthi’. Nama yang sudah diinden dan diberikan jauh sebelum jabang bayi ini terlahir di dunia oleh teman-teman kerjaku.
Empat hari berlalu sejak kelahirannya, tiba-tiba saja kehebohan mulai muncul. Istilah corona atau covid-19 menjadi tranding topik yang tiada habisnya. Mulai dari tukang sayur, tukang jamu, ibu-ibu arisan, grup-grup sosial media semua membicarakannya. Kehadiran covid-19 di tengah kehidupan masyarakat tampaknya menjadi isu baru layaknya artis yang sedang naik daun dan tak mau kalah pamor.
Corona atau covid-19 masih menjadi barang baru bagi kebanyakan orang. Covid-19 yang pada akhirnya ditetapkan sebagi sebuah pandemi oleh pemerintah telah meluluh lantakkan hampir di semua sendi kehidupan. Semua orang merasakan gejolak beragam di tengah situasi pandemi ini. Kengerian akan mewabahnya virus yang entah datangnya dari mana. Cemas, was-was adalah rasa yang tak bisa dinafikkan dari situasi ini.
Sejumlah daerah lantas membuat kebijakan untuk menghentikan laju penyebaran corona. Jalan-jalan mulai ditutup dengan alasan lockdown bahkan gang-gang tikus pun tak mau ketinggalan.
Selain itu, ada yang tiba-tiba raib atau hilang dari peredaran. Mulai dari sabun cuci tangan, hand sanitizer, maker, sarung tangan, termometer, karbol, disinfektan yang harganya melangit dengan batas tak wajar.
Kebijakan pembatasan social berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah mengharuskan para pekerja kantoran untuk melakukan work from home (WFH). Tak terkecuali para abdi Negara sepertiku.
Ketakutkan akan merebaknya wabah di sektor pendidikan, membuat segala kegiatan pembelajaran dilakukan secara dalam jaringan (daring) atau online. Hal itu semata-mata karena alasan keselamatan.
Imbauan stay at home adalah tindakan paling bijak yang menjadikan masyarakat bisa berpredikat sebagai pahlawan. Yah, pahlawan untuk diri sendiri, keluarga, tetangga, bahkan bagian dari cinta tanah air. Awalnya kondisi ini berlangsung selama empat belas hari, tetapi lama kelamaan semakin diperpanjang hingga pada akhirnya mencapai hitungan bulan.
Kelahiran Kinanthi tampaknya memberikan angin segar buatku di tengah pandemi ini. Jatah cuti hamil, aku ambil penuh selama tiga bulan. Terhitung dari tanggal 9 Maret sampai dengan 9 Juni 2020 aku pun melaksanakan tugasku sebagai ibu rumah tangga di Yogyakarta, kota penuh kenangan dan sejarah cintaku bermula.
Beruntung ketika pandemi ini datang, aku sudah berada di Yogyakara. Berada di tengah keluargaku tercinta. Maklumlah setahun setengah ini semenjak aku diterima menjadi abdi negara di Bogor, aku harus berjauhan dengan keluarga, meninggalkan suami dan kedua jagoanku serta ibu dan kakak yang sakit.
Lamunanku tiba-tiba pecah. Bayangan akan kembali bekerja di kantor membuyarkan konsentrasiku saat sedang memberikan ASI untuk si kecil. Tujuh hari ke depan akan habis masa cutiku. Masih banyak PR dan kewajiban yang belum tuntas aku selesaikan.
Mataku tertuju pada ketiga buah hati yang sedang tidur terlelap. Apa jadinya jika aku harus kembali bekerja di Bogor dan meninggalkan dua jagoan di Yogyakarta. Sedangkan, situasi saat ini masih belum stabil. Jumlah pasien corona belum juga surut, bahkan angkanya terus naik. Ini semakin membuatku linglung.
Tidak mudah membawa bayi yang belum genap berusia tiga bulan untuk kembali ke Bogor di tengah pandemi. Bogor termasuk daerah zona merah, zona berbahaya. Kembali ke Bogor sama halnya seperti bunuh diri, seolah masuk ke sarang harimau. Bogor adalah salah satu penyumbang kasus covid di wilayah Jabodetabek yang tidak bisa dianggap remeh.
Empat hari menjelang waktu cuti habis. Kuberanikan diri untuk meminta arahan, pertimbangan, serta kebijaksanaan dari atasan. Ternyata berkonsultasi dengan atasan itu memberikan sensasi tersendiri. Hati berdebar, pikiran melayang, berbagai praduga muncul dalam benak. Tidak karuan, itulah yang aku rasakan. Kurangkai kalimat dengan penuh kehati-hatian agar apa yang aku sampaikan dapat diterima dengan baik. Berbagai alasan dan pertimbangan kondisi menjadi senjata ampuh agar aku dapat WFH di Jogja.
Jadwal rilis work from office (WFO) dan kebijakan kementerian sudah keluar. Yang membuatku kaget adalah tiga hari setelah cuti habis harus segera melakukan aktivitas pekerjaan di kantor.
Hal yang membuatku tambah stress adalah, aku sama sekali belum mempersiapkan segalanya untuk kembali bergegas ke Bogor. Semua berkas dan syarat ke luar kota belum aku urus sama sekali. Tiket pesawat yang seminggu sebelumnya masih belum banyak dipesan orang, tiba-tiba hanya tinggal satu maskapai yang siap terbang. Sedangkan untuk menaiki kereta api ada kebijakan tersendiri, yaitu tidak diperbolehkan membawa bayi.
Seketika kepalaku mau pecah rasanya. Bayang-bayang pengurusan surat izin keluar masuk (SIKM) yang ribet dan belum tentu bisa diperoleh menjadi kendala tersendiri. Ditambah lagi hanya di fasilitas kesehatan (faskes) tertentu saja yang membuka rapid test atau swab test itu pun hanya bisa digunakan tiga hari saja.
Sambil menunggu arahan dari atasan, tak lupa ku panjatkan doa-doa setiap saat. Berharap atasan bisa memberikan solusi terbaik dan memiliki kebijaksanaan. Andai aku benar-benar harus kembali bekerja ke Bogor dalam masa pandemi yang entah akan berakhir sampai kapan, maka sudah bisa dipastikan aku tidak akan pernah tahu kapan bisa kembali ke Jogja untuk menengok dua jagoanku. Ibarat bisa pergi tak bisa kembali.
Menjelang tidur, bunyi notifikasi pesan whatsapp terdengar lirih. Ternyata atasan memberikan jawaban yang aku nanti-nanti. Alhamdulillah, sujud syukur aku panjatkan kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Pimpinan sekolah, tempat aku membagikan ilmu memintaku untuk membuat surat permohonan WFH di Jogja disertai lampiran SK perpanjangan status tanggap darurat covid-19 yang ditandatangani Gubernur DIY. Beruntung, status tanggap darurat di Jogja berakhir sampai dengan tanggal 30 Juni 2020. Hal ini membuatku lega, Pimpinan akhirnya memberikan kelonggaran waktu yang disesuaikan dengan perpanjangan status darurat itu. Aku senang sekali, masih bisa menjalankan tugasku sebagai seorang ibu di rumahku, surgaku itu.
Kehadiran Kinanthi benar-benar membawa berkah di tengah keluarga kami. Bisa dibayangkan andai saja ia tidak terlahir di tengah pandemi, bisa jadi aku harus tetap berada di Bogor entah sampai kapan. Bahkan bisa dipastikan tidak dapat pulang pergi Bogor-Jogja, dua pekan sekali.
Keberkahan lainnya, ia lahir di bulan Ramadhan. Tiga puluh hari penuh kami melaksanakan ibadah puasa bersama, dari bangun sahur, berbuka, dan solat tarawih di rumah. Romantis sekali rasanya.
Kehadiran Kinanthi juga menjadikan waktu bersama keluarga semakin berarti. Dua jagoanku bisa mendapat perhatian lebih dari ku. Maklum sejak aku bekerja di Bogor mereka kurang perhatian dari seorang ibu. Bersyukur juga dengan adanya pandemi ini mendadak aku menjadi guru PAUD di rumah. Ya, biasalah anak-anak menjadi manja sejak ada ibunya di rumah. Padahal, biasanya aku mendidik anak-anak SMA dan mahasiswa. Jadi perlu kesabaran ekstra untuk menghadapi bocah-bocah yang lucu ini. Ada saja tingkahnya yang membuatku tak habis pikir.
Terima kasih nak, kamu lahir membawa keberkahan dan kebahagiaan di tengah kami. Kelahiranmu di tengah pandemi menjadi cerita tersendiri. Tepat kiranya ibumu ini memberimu nama Kinanthi.
Kinanthi yang berarti sebuah tembang macapat. Tembang ini biasa digunakan untuk menggambarkan rasa sayang, kebahagiaan, dan juga nasihat. Kata kinanthi diambil dari bahasa Jawa kanthi yang artinya tuntunan atau bimbingan. Kinanthi dapat pula dimaknai sebagai seseorang yang senantiasa memberikan nasihat-nasihat tentang kehidupan kepada sesama.
Oleh : Nurwulan Sari
Profil Penulis:

Saya Nurwulan Sari, lahir di Yogyakarta, 25 Agustus 1987. Moto hidup saya “Hidup itu perjuangan dan harus diperjuangkan”. Bagi saya, hidup adalah ujian yang harus lulus darinya. Caranya, ya dengan berjuang.
Saya menamatkan program sarjana di UNY dengan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Program Pascasarjana juga saya ambil di kampus yang sama dengan mengambil konsentrasi Linguistik Terapan. Saat ini saya aktif bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMK SMAK Bogor, Jawa Barat. Saya juga masih aktif di organisasi kepramukaan sebagai Andalan Putri T/D. Hubungi saya melalui email simboxs_moonsweety@yahoo.com
Sumber: gambar depan dari internet