Universitas Gadjah Mada Writing for Healing
  • BERANDA
  • TENTANG
  • KISAH
  • VIDEO
  • Beranda
  • Guest Writers
  • KISAH PENANGANAN COVID-19 DI KABUPATEN MAGETAN

KISAH PENANGANAN COVID-19 DI KABUPATEN MAGETAN

  • Guest Writers
  • 15 April 2021, 22.37
  • Oleh: sitiqotijah2018
  • 0

oleh: Suprawoto

Tidak banyak pengalaman empirik apalagi bagaimana menghadapi pandemi. Seperti langkah apa saja yang mesti dilakukan oleh pembuat kebijakan. Yang bisa kita baca dibeberapa literatur, memang pernah terjadi pandemi. Namun catatan itu kebanyakan hanya sebatas sebuah cerita sepotong. Kalau pun ada lebih pada sebuah tulisan peristiwa sejarah.

Seperti kejadian pandemi flu Spanyol ini juga direkam oleh Dr. Sumarsono Sastrowardoyo dalam biografinya yang berjudul “Kembali ke Uteran.” Yang bersangkutan adalah seorang dokter spesialis bedah yang lahir tanggal 5 Maret 1922; anak wedana Uteran yang menuntut ilmu di sekolah kedokteran sejak jaman Belanda dilanjut dijaman Jepang. Beliau kuliah dalam masa peralihan dan lulus setelah Indonesia merdeka dari FKUI di tahun 1950-an. Kemudian beliau melanjutkan studi ke Amerika dan menjadi seorang ahli bedah.

Saya memiliki biografi Dr. Sumarsono. Kebetulan saya memang senang membeli dan mengumpulkan buku apapun. Didalam biografinya tepatnya dihalaman 18 tertulis,”Ayah pernah menceritakan. Waktu tahun 1918 terjadi wabah influenza mengamuk di daerah Madiun. Ribuan orang jatuh sakit dan banyak yang meninggal sehingga tidak cukup ada orang sehat untuk memakamkan jenazah-jenazah. Karena itu orang-orang desa menjadi bingung. Kantor Asisten Wedana menjadi pusat pertolongan untuk membagi obat dan makanan serta untuk mengatur pemakaman korban influenza yang mati. Pada waktu itu, kakak saya perempuan, yang masih bayi meninggal juga. Menghadapi kejadian itu, Ayah seperti disambar petir dan tidak dapat berbuat apa-apa. Telepon bordering terus, sedangkan penjaga tilpon jatuh sakit juga. Ibulah yang siang malam melayani tilpon, walaupun putrinya baru dimakamkan.”

Dalam penggalan hanya satu alinea tersebut jelas menggambarkan betapa pandemi pernah terjadi di Madiun dan juga di Indonesia pada waktu itu. Hanya karena rekaman peristiwa tersebut hanya satu alinea, maka catatan tersebut hanya menginformasikan secara singkat pernah terjadi pandemi. Tidak ada penjelasan jumlah korban, kapan mulai masuk, atau bagaimana penanganan pandemi oleh pemerintah. Tidak ada sama sekali.

Demikian juga ketika giliran pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, sampai kemudian masuk di Kabupaten Magetan tidak ada persiapan sama sekali. Kita seperti terlena. Kita membaca berita dan laporan berbagai media. Namun dalam pikiran kita kejadian itu ada di Wuhan-Tiongkok. Tempat yang jauh dari Indonesia. Apalagi Magetan. Tentu dapat diduga betapa sibuk dan dibuat kalang-kabut. Apalagi Kabupaten Magetan masuk daerah pertama yang warganya terpapar Covid-19 di Jawa Timur bersama dengan Kota Surabaya dan Malang.

Tragisnya, informasi tentang adanya warga yang terpapar Covid-19 justru didapat dari keterangan pers Gubernur Jawa Tengah. Dinyatakan bahwa yang positif terkena covid-19 adalah warga Magetan dan telah dimakamkan di Magetan. Keterangan tersebut sebenarnya juga kurang lengkap karena almarhum telah lama menjadi warga Solo, meskipun asli dari Magetan. Pihak keluarga menghendaki supaya almarhum dimakamkan di Magetan. Tentu kita semua kelabakan. Tidak ada informasi resmi kepada pemerintah Kabupaten Magetan sebelumnya. Tidak mengherankan bila ketika almarhum yang terkena Covid-19 tiba di tempat rumah almarhum di Magetan banyak yang takziyah. Bahkan jasad almarhum juga dibuka sebelum dimakamkan.

Karena keterlambatan informasi tersebut, kami baru “bergerak” setelah pemakaman almarhum. Kami segera melakukan langkah-langkah, diantaranya jumpa pers dan juga melakukan tracing terhadap orang dalam resiko (ODR) virus. Setelah kita tracing, mereka yang pernah berinteraksi kami minta untuk melakukan isolasi mandiri. Kemudian kami melakukan tes SWAB, terutama kepada keluarga inti yang secara intens berinteraksi.

Setelah hasil SWAB keluar, diantara orang yang pernah berinteraksi ini, tujuh orang terkonfirmasi positif. Pertama yang keluar hasilnya adalah istri almarhum. Mereka semua adalah orang tanpa gejala (OTG), secara fisik kelihatan sangat sehat namun terpapar virus. Oleh sebab itu, segera kami bawa ke RSUD Soedono Madiun dengan protokol kesehatan yang ketat. Tentu penanganan di RSUD sangat baik dan profesional.

Dari hasil tracing tersebut dapat dipastikan, bahwa Covid-19 ini dari kluster Bogor. Almarhum mengikuti sebuah seminar di kota itu dengan tema “Platform Bisnis Tanpa Riba” di Darmawan Park, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 25-28 Februari lalu. Yang berinteraksi secara intens dengan almarhum terbukti kemudian terpapar. Inilah awal mula Kabupaten Magetan warganya terpapar virus galur baru Covid-19.

Mengingat bahwa penularan virus ini dari interaksi antar manusia, maka dengan berbagai pertimbangan kita lakukan physical distancing di tingkat lokal. Di wilayah sekitar rumah yang telah dinyatakan positif, dan kebetulan satu keluarga kita tutup jalannya. Semua mobilitas warga dibatasi secara ketat. Kebutuhan kami bantu. Kami sebisa mungkin menekan bahwa persoalan kesehatan ini tidak membawa dampak terlalu dalam pada sektor ekonomi. Kami mengkhawatirkan apabila berdampak pada krisis sosial.

Dimulai dari konfirmasi positif istri almarhum, kemudian tanggal 21 Maret 2020 bertambah lagi dua orang suami istri dari Jalan Sumatera Kota Magetan sehingga jumlahnya menjadi tiga orang yang terpapar. Suami istri tersebut juga mengikuti seminar yang sama di Bogor. Langkah kami selanjutnya adalah menutup Jalan Sumatera yang memang tempat domisili pasangan suami istri. Berikutnya adalah keluarga dekat almarhum dinyatakan positif bertambah menjadi enam orang sehingga semua menjadi delapan orang. Seminggu kemudian seorang pasien dalam pengawasan (PDP) warga Magetan yang dirawat di RSUD Sidoarjo meninggal dunia karena Covid-19 juga kluster Bogor. Semua menjadi sembilan orang.

Dengan model physical distancing ketat di lingkungan kecil terbatas Kabupaten Magetan bisa menekan penyebaran Covid-19 sampai sekitar dua minggu. Penanganan virus galur baru Covid-19 ini sempat menjadi model karena kami mampu menekan jumlah yang terpapar. Ketika awal virus merebak, daerah terbanyak pertama adalah Surabaya disusul Kabupaten Magetan. Kemudian Magetan bisa menekan sehingga turun peringkat ke urutan sebelas. Sebaliknya, kabupaten lain bertambah berlipat. Strategi kami melakukan physical distancing disebut “ala Magetan” mendapat apresiasi dari Ibu Gubernur Jawa Timur. Namun, seperti terbukti juga pada pandemi sebelumnya, baik yang sekitar tahun 1918 maupun saat ini, cara penularan lebih banyak melalui interaksi langsung.

Dan adanya tanda-tanda bisa menekan laju penyebaran, kami dikejutkan oleh adanya konfirmasi positif terpapar Covid-19 di Desa Temboro yang memang mobilitas masyarakatnya demikian tinggi. Adalah seorang pemilik tempat kos yang tidak pernah keluar. Aktivitasnya pun hanya sekitar tempat tinggal. Sebagai informasi, Desa Temboro terdapat Pondok Pesantren besar yang memiliki santri sejumlah sekitar 22.000 santri. Seribu santri diantaranya berasal dari dua belas negara, terutama negara-negara ASEAN. Tidak heran tempat ini sangat rentan utamanya dari kluster luar negeri.

Ketika kami sedang fokus melakukan tracing terhadap orang-orang yang telah berinteraksi dengan yang positif pertama di Desa Temboro tersebut, kami memperoleh pesan WA dari Ibu Gubernur. Minggu Malam 19 April 2020 Jam 22.42 beliau mengirimkan berita online bahwa santri dari Malaysia terpapar Covid-19. Adapun judul beritanya, “Covid-19: Satu Lagi Kluster Baharu Dikesan Babitkan Pelajar Malaysia dari Temboro.” Berita tersebut dilansir dari portal nasional Malaysia Astroawani.com.

Karena ini masalah yang sensitif, dan juga berita dari luar negeri, saya sebagai pejabat publik harus cross-check mengenai kebenaran berita. Walaupun berita tersebut dari salah satu portal nasional Malaysia, namun diera digital sekarang ini kita harus hati-hati. Ada kemungkinan berita tersebut kurang tepat atau sengaja dibelokkan. Saat ini sering terjadi mis-informasi atau bisa jadi hoaks.

Untungnya saya kenal dengan kepala perwakilan Kantor Berita Antara Malaysia di Kuala Lumpur. Segera saya menghubungi yang bersangkutan. Untungnya lagi, langsung direspon. Yang bersangkutan memberikan konfirmasi akan kebenaran berita tersebut karena yang bersangkutan juga mendapat press release dari Kementerian Kesehatan Malaysia. Namun beliau juga berjanji akan menggali informasi sebanyak-banyaknya. Mengingat waktu itu Malaysia sedang melakukan lockdown sehingga tidak bisa langsung cross-check ke Kementerian Kesehatan yang terletak di Putra Jaya untuk datang secara fisik.

Tanggal 20 April pagi sekitar jam 05.00 saya memperoleh kabar dari perwakilan Kantor Berita Antara Kuala Lumpur bahwa berita tersebut benar. Mereka memberi saya berita dan bukti-bukti kebenaran informasi tersebut baik nama maupun lokasi isolasi telah dikirimkan kepada saya melalui WA. Adanya kebenaran berita ini, kami segera mengambil langkah-langkah yang cepat, diantaranya melakukan physical distancing untuk Desa Temboro dan melakukan tracing yang pernah berinteraksi dengan pasien.

Dikarenakan kasus ditemukan setelah banyaknya santri dari pondok pesantren yang sudah pulang, bagi daerah yang warganya ada santri dari pondok pesantren Temboro maka harus dilakukan pemeriksaan melalui rapid test. Setelah melalui rapid test dan tes SWAB, diketemukan ada yang terkonfirmasi positif. Oleh media kemudian disebut kluster Temboro.
Saat ini di Magetan yang positif Covid-19 tidak hanya karena kluster Bogor dan Temboro. Bertambahnya warga Magetan yang positif, karena banyak warga yang bekerja di Surabaya, Jakarta dan tempat lainnya. Sampai dengan tanggal 14 Juni 2020 jumlah yang positif terpapar Covid-19 ada 88 orang; meninggal dunia 4 orang, sembuh 65 orang, dan sisanya masih dirawat di RSUD Sayidiman Magetan maupun isolasi mandiri.

Saat ini Kabupaten Magetan pada posisi urutan ke-11 dari 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur kalau dihitung banyaknya jumlah yang terpapar Covid-19. Seiring dengan dapat ditekannya penyebaran Covid-19 di Kabupaten Magetan, berdasarkan hasil kajian dari Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Magetan saat ini dinyatakan dalam resiko sedang bukan lagi resiko tinggi bersama dengan 22 Kabupaten/Kota lainnya di Jawa Timur.

Dengan adanya pandemi Covid-19, kami mempunyai pengalaman sangat berharga. Walaupun pada awalnya kalang kabut, sejak awal saya memiliki keyakinan bahwa sesulit apapun ujian ini pasti akan bisa terlewati. Karena sejarah juga membuktikan bahwa, bangsa Indonesia telah berkali-kali ditempa dengan berbagai cobaan, yang menurut hemat saya justru lebih berat. Namun seberat apapun cobaan, bangsa Indonesia selalu,”mrojol saka selaning garu.” Mudah-mudahan juga cobaan pandemi Covid-19 ini. Segera kita bisa melewatinya. Amin

Tentang Penulis

Dr. Drs. Suprawoto, S.H., M.Si merupakan Bupati Kabupaten Magetan periode 2018-sekarang. Dapat dihubungi melalui pos-el: bandil8@yahoo.com

 

Sumber: gambar depan dari internet

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Recent Posts

  • WfH
  • TEGAR
  • SEPENGGAL KISAH Ph.D. SELAMA PANDEMI COVID-19
  • IMAN DAN IMUN
  • AKU DAN ANAKKU

Archives

  • May 2021
  • April 2021
  • October 2020
  • September 2020
  • August 2020
  • July 2020

Categories

  • About
  • Edukasi
  • Guest Writers
  • Kisah
  • Kisah2
  • kisah3
  • Video
Universitas Gadjah Mada

Tim Pengabdian Sekolah Vokasi,

Universitas Gadjah Mada

Gedung Iso Reksohadiprodjo, Sekip Unit 1,

Caturtunggal Depok, Sleman, Yogyakarta 55281

       wfh.sv@ugm.ac.id

       0274-541020

 

 

  • Tentang Kami

Informasi

© 2020 Writing for Healing

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY