Universitas Gadjah Mada Writing for Healing
  • BERANDA
  • TENTANG
  • KISAH
  • VIDEO
  • Beranda
  • Kisah
  • 4P (PERJUMPAANKU, PERTEMUANKU, PERKENALANKU, DAN PENGALAMANKU) DENGAN VIRUS CORONA 

4P (PERJUMPAANKU, PERTEMUANKU, PERKENALANKU, DAN PENGALAMANKU) DENGAN VIRUS CORONA 

  • Kisah
  • 16 April 2021, 12.20
  • Oleh: sitiqotijah2018
  • 0

oleh: Karlina Sarah Prayanti 

Tidak pernah terbayang dan membayangkan bahwa Indonesia dan aku pribadi harus “berkenalan”, “berteman“, dan “mencoba memahami”  yang namanya virus corona, atau lebih dikenal dengan Coronavirus Disease-2019 (Covid-19). Perjalananku bersama dengan Covid-19 dimulai dari hari Selasa, tanggal 24 Maret 2020. Pada saat itu aku bersama dengan suami sudah merasakan demam dan batuk tanpa sesak nafas. Gejala sudah dirasakan selama kurang lebih 1 minggu dan kami pun pergi ke dokter. Beliau menyarankan supaya kami pergi ke salah satu Rumah Sakit Rujukan di Jakarta untuk dilakukan proses swab. Dengan perasaan berkecamuk (gentar, khawatir, takut), kami pun pergi ke rumah sakit tersebut untuk proses selanjutnya.

Akhirnya, kami langsung menuju ke RS Rujukan tersebut dan melihat pemandangan yang menegangkan, karena banyak tenda didirikan sebagai posko penanggulangan Covid-19. Terlihat petugas berpakaian APD lengkap dan sekumpulan pasien yang menjaga jarak. Kami pun mendatangi seorang petugas dan mengajukan diri untuk mengikuti tes swab. Petugas tersebut menyarankan kami pergi ke rumah sakit swasta untuk dilakukan cek darah dan rontgen paru-paru. Dengan langkah kaki yang lemas karena sudah setengah hari kami meninggalkan rumah, meninggalkan kedua anak kami (laki-laki berumur 6 tahun dan bayi perempuan 7 bulan) kami menuju ke rumah sakit swasta. 

Setelah menempuh kurang lebih satu jam perjalanan, sampailah kami ke RS swasta tersebut dan langsung menuju ke UGD. Dokter menginstruksikan kepada perawat untuk memberikan obat penurun panas melalui infus agar demam segera turun dan dilakukan cek darah dan rontgen paru. Sambil menunggu hasil cek darah, suami memutuskan untuk dirawat inap karena dia berpikir hanya terkena tifus, sedangkan aku masih berpikir dapat pulang ke rumah setelah mendapatkan obat. Jadilah kami berbeda ruangan, aku di UGD, dan suami ada di kamar perawatan di lantai 7. Doa permohonan tidak putus-putusnya kami panjatkan, berharap kami tidak terkena penyakit ini. Setelah kurang lebih satu jam dokter berkaya bahwa ada indikasi ke arah “Bronchopneumonia” dan disarankan untuk dilakukan CT-Scan. Lemas rasanya begitu mendengar kabar ini, tetapi akhirnya aku pun menyetujui tindakan ini. Di lain waktu dan tempat, suamiku juga melakukan tindakan CT-Scan. Satu jam kemudian, seorang dokter internis mendatangiku dan menjelaskan dengan sangat halus dan sopan bahwa di paru-paru terlihat kabut putih yang tipis dan itu mengarah ke Covid-19.

Runtuh rasanya dunia, perasaan, pikiran pada saat itu. Tidak percaya mengapa aku bisa terkena. Dokter pada saat itu memutuskan untuk mengisolasi kami. Aku berkata dan memohon pada dokter untuk dapat pulang untuk mengambil baju (karena kami tidak membawa persiapan apapun) dan setidaknya bisa berpamitan kepada anak-anak. Apa daya, aku pun tidak diijinkan untuk meninggalkan rumah sakit. Saat itu aku coba untuk menenangkan diri supaya dapat berpikir dengan jernih. Pihak rumah sakit menyarankan agar aku dan suami bisa ditempatkan dalam satu ruangan supaya kami bisa diisolasi bersama. Sambil menunggu untuk dicarikan ruangan, aku mencoba untuk meminjam charger kepada salah seorang perawat.

Berhasil men-charge baterai, aku mulai mengabari keluarga terdekat (anak dan ART di rumah), kakak ipar dan adikku, dan atasanku. Masih dalam proses pencarian ruangan, seorang perawat datang menghampiri aku bahwa ada kemungkinan kami akan dibawa ke RS Darurat Penanggulangan Covid di Wisma Atlet. Aku pun merasa pikiran menjadi hilang arah dan terkejut. Berbagai macam pertanyaan timbul di kepala. Bagaimana dengan anakku, berapa lama aku harus berada disana, bagaimana perawatannya, dan lain sebagainya. Tetapi mereka meyakinkan aku bahwa kami akan dirawat dengan baik di sana.

Sebelum dipindahkan di RSD Wisma Atlet, aku meminta ART aku untuk mengirimkan charger, kaos kaki, dan alat pompa ASI. Entah kenapa aku tidak meminta untuk dibawakan baju pada saat itu. Sementara menunggu ambulance untuk membawa kami ke RSDWA (Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet), aku dan kedua pasien lain yang terindikasi Covid-19 dipindahkan ke ruangan khusus. Waktu pada saat dipindahkan ke ruangan khusus tersebut adalah pukul 19.00 dan aku belum makan sejak pagi (dan tidak merasa lapar). Seorang atasan aku tiba-tiba mengirimkan Kwetiau Mangga Besar via gosend. Betapa bersyukurnya aku waktu menerima kiriman makanan. Ternyata Tuhan masih (dan selalu) memelihara aku. Aku pun menitikkan air mata, terharu, dan bersyukur bahwa aku tidak ditinggalkan sendirian. Saat itu aku mulai kembali dikuatkan bahwa hari-hari ke depan pun aku pasti akan dipelihara dan ditolong oleh Tuhan, walaupun kelihatannya jalan di depan sangat tidak jelas dan kabur.  

Jam menunjukkan pukul 3.00 WIB pagi waktu kami diminta untuk bersiap-siap berangkat. Di situ pun aku kembali bisa bertemu suami setelah ber jam-jam terpisah. Jam 4 pagi, akhirnya kami bersama 4 orang pasien lainnya dirujuk ke RSDWA dengan infus yang masih terpasang. Hujan deras mengiringi perjalanan kami. Kami baru bisa tertidur di ambulans setelah seharian tidak bisa tidur. Jam 5 kami tiba, dan proses untuk masuk ke RDSWA juga tidak cepat karena harus antri. Rumah Sakit ini baru dibuka tiga hari ketika kami tiba di sana. Suasana mencekam pun dapat kami rasakan, karena banyak ambulans yang sedang mengantri. Kami pun menunggu di ambulance sembari petugas menyerahkan berkas-berkas kami kepada perawat yang ada di RSDWA. Setelah kurang lebih satu setengah jam menunggu di ambulans, kami pun dipersilahkan masuk di di UGD mereka.

Berat kaki ini melangkah, karena kami sangat takut dikarenakan mendengar bunyi mesin “pemantau detak jantung dan oksigen” yang ada di UGD dan ruangan yang sangat dingin membuat kami semakin resah. Kami pun mulai didatangi oleh dokter dan perawat dengan berpakaian “astronot” ini dan mereka mulai memeriksa dan mewawancarai kami. Salah satu dokter dari TNI AD bernama dr. Fadly (semoga tulisanku benar) wawancara kami dengan sangat hangat dan ramah sehingga membuat kami merasa rileks. Beliau mengatakan bahwa kami harus optimis, semangat dan berpikiran positif supaya imunitas kami terus naik untuk melawan virus corona ini. Kami pun merasa semangat kami dibangkitkan kembali mendengar perkataan beliau. Dibekali dengan termometer untuk setiap pasien, kami dijelaskan bahwa di RSDWA ini sifatnya isolasi mandiri. Kami akan mengukur suhu setiap hari dan melaporkan temperatur suhu kepada perawat melalui whatsapp. 

Setelah selesai pengecekan di UGD, kami diantarkan ke lantai 5 untuk beristirahat. Kami diijinkan untuk tinggal di kamar yang sama. Suasana kamar sangat nyaman. Seperti tinggal di apartemen. Tidak seperti bayangan kami yang akan tidur dan beristirahat di bed rumah sakit dengan infus menempel sepanjang hari. Kami di sini mendapatkan fasilitas yang cukup baik dengan pelayanan yang baik pula dari para tim medis. Setiba kami di sini, beberapa teman mulai kami kabari. Dengan respon yang cukup cepat, di hari Rabu 25 Maret 2020 tersebut, teman-teman kami mulai mengirimkan kebutuhan-kebutuhan yang kami perlukan seperti, baju (karena kami hanya membawa baju yang menempel di tubuh saja), sabun, shampoo, deterjen, vitamin, madu, gula, teh, pasta gigi, sikat gigi, dan lain sebagainya. Di hari-hari berikutnya “paketan” jasmani dan rohani untuk kami juga tiada henti berdatangan. Selain paketan jasmani, paketan rohani pun tidak kunjung berhenti kami terima (doa, kata-kata semangat, perhatian) untuk kami sekeluarga. Mengetahui bahwa kami ada di dalam doa mereka telah menambah kekuatan dan semangat tersendiri.

Sejak dari hari pertama kami di Wisma Atlet sampai dengan 2 minggu kemudian (karena anak-anak dibawa ke Cibubur oleh kakak ipar), pemeliharaan Tuhan atas anak-anak sangat nyata. Setiap hari ada yang mengirimkan bahan makanan, susu, pampers, dan berbagai kebutuhan lainnya. Sungguh aku sangat bersyukur bahwa ketika kami sementara waktu tidak mampu hadir dan bersama dengan anak-anak kami, tapi di situlah pertolongan-Nya dinyatakan atas kami sekeluarga.

Selama di Wisma Atlet, kami pun sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang yang mengalami hal yang sama. Setelah dua hari kami berada di lantai 5 kami  dipindahkan ke lantai 11, dan kemudian menetap di lantai 31. Para perawat dan pasien tak henti-hentinya saling memberikan semangat. Hubungan antara pasien dan tim medis terjalin dengan sangat baik dan kompak. Kami diberikan kesempatan untuk saling bertukar cerita dan pengalaman. Pengalaman-pengalaman tersebut saling menguatkan dan menyemangati kami. Tim medis selalu mengingatkan kami untuk terus bersukacita dan tidak stress supaya imunitas tubuh terus naik dan virus dapat dikalahkan. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” 

Aku berada di Wisma Atlet selama 25 hari sedangkan suami selama 55 hari. Berat untuk melalui pengalaman ini, tetapi semua yang kami lewati ini bukanlah suatu kebetulan dan bukan juga merupakan hukuman. Ketika merasa lelah secara spiritual, aku berdoa kepada Tuhan ingin melihat pelangi (melambangkan janji Tuhan). Saat itu aku sedang memandang keluar jendela kamar, tiba-tiba melintaslah seekor kupu-kupu yang sangat indah. Aku pun diyakinkan olehNya bahwa “Semua akan indah pada waktunya”. Kami diijinkan untuk melewati semua pengalaman berharga ini pasti ada tujuan dan maksudnya yaitu untuk menjadi pribadi yang lebih takut akan Dia, mengandalkan dan berserah penuh kepadaNya. Sudut pandang kami diubahkan. 

Saat ini kami sudah diijinkan untuk berkumpul dengan keluarga. Kami tidak henti-hentinya mengucap syukur atas anugerah ini. Doa terus kami panjatkan untuk pemerintah dan jajarannya dalam menangani pandemi ini dan masyarakat yang harus mengalami dan terkena dampak dari penyakit ini. Yakinlah bahwa kita tidak berjalan sendirian, selalu ada jalan keluar, dan patuhilah anjuran pemerintah beserta dengan protokolnya. Seperti yang aku dan pasien di Wisma Atlet yakini bahwa “semua akan negatif pada waktunya” yang artinya dengan berpikiran positif, terus bersukacita dan bersyukur, maka virus ini dapat dikalahkan dan kami dapat sembuh.    

Jakarta, 14 Juni 2020

 

Tentang penulis:

Karlina Sarah Prayanti mempunyai 2 anak, laki-laki dan perempuan. Saat ini bekerja sebagai guru SD di Jakarta. Kegiatan yang sering dilakukannya pada saat senggang adalah membaca, memasak, dan bermain bersama anak-anak. Ia memiliki motto: Lakukankah dan kerjakanlah pekerjaanmu dengan sungguh-sungguh dengan tulus hati maka Tuhan yang akan menyempurnakannya. Ia dapat dihubungi melalui pos-el karlinaello@gmail.com

 

 

 

Sumber: gambar depan dari internet

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Recent Posts

  • WfH
  • TEGAR
  • SEPENGGAL KISAH Ph.D. SELAMA PANDEMI COVID-19
  • IMAN DAN IMUN
  • AKU DAN ANAKKU

Archives

  • May 2021
  • April 2021
  • October 2020
  • September 2020
  • August 2020
  • July 2020

Categories

  • About
  • Edukasi
  • Guest Writers
  • Kisah
  • Kisah2
  • kisah3
  • Video
Universitas Gadjah Mada

Tim Pengabdian Sekolah Vokasi,

Universitas Gadjah Mada

Gedung Iso Reksohadiprodjo, Sekip Unit 1,

Caturtunggal Depok, Sleman, Yogyakarta 55281

       wfh.sv@ugm.ac.id

       0274-541020

 

 

  • Tentang Kami

Informasi

© 2020 Writing for Healing

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY