oleh: Louditta Ristyasa Rannu
Tidak pernah terbayang bahwa akan datang pandemi dalam kehidupan dunia ini. Aku tahu segala aspek terdampak. Semua orang menderita dan merasa sulit. Kehidupan kacau. Segala pertemuan, kegiatan dan rencana tertunda bahkan gagal. Kehidupan manusia sedang diuji. Sempat terpikir manusia selama ini memang jahat terhadap bumi. Setiap manusia memang harus rendah hati. Manusia hanyalah bagian dari makhluk hidup. Manusia bukanlah penguasa bumi. Terbukti bahwa manusia bisa dikalahkan dengan makhluk hidup lain yang jika dibandingkan dengan ukuran, tentu manusia sudah pasti menang.
Aku ingat. Bulan Maret 2020, semua kehidupanku berubah. Kecemasan dan kekhawatiran melandaku. Semua orang mengatakan, “Hai, seharusnya kamu bersyukur. Secara ekonomi kamu berkecukupan. Lihatlah orang-orang lain yang sudah mulai tidak makan karena adanya Covid-19”. Ya, aku sadar itu. Aku memang bersyukur dari segi ekonomi. Aku tidak akan kekurangan karena pekerjaan orang tuaku.
Bukan itu masalahnya! Bukan itu! Bukankah sudah kubilang di awal tadi bahwa semua aspek kehidupan manusia terdampak? Bukan hanya masalah ekonomi saja! Aku tak tahu, pandangan orang terhadapku. Namun, inilah fase-fase sulit dalam kehidupanku. Aku punya penyakit mental yaitu Generalized Aniexty Disorder (GAD). Apakah kalian pernah mendengar? Penyakit mental dengan kecemasan, ketakutan, kekhawatiran yang sangat berlebih. Aku tak tahu waktu tepatnya aku mengidap penyakit itu. Aku sudah setahun bertemu dengan psikolog kampus untuk menjalani terapi. Bayangkan, sehari-hari saja aku sudah dilanda kecemasan. Jika kalian bertanya, mengapa aku harus cemas? Aku tidak tahu jawabannya. Kecemasan itu tiba-tiba melandaku. Ketakutan tiba-tiba merasuki.
Di pertengahan Maret 2020, aku mulai merasakan diriku yang tidak tenang. Aku terlalu penasaran dengan Covid-19. Aku terus mencari tahu berita tentang Covid-19. Awalnya aku tidak menyadari efek sampingnya untuk tubuhku. Akan tetapi, aku merasa dadaku berat, pergelangan tanganku gemetar ketika digerakkan, nafasku tidak beraturan, asam lambungku naik terus dan aku mulai kekurangan jam tidurku. Covid-19 membuat kecemasan, kekhawtiran dan ketakutanku naik dua kali lipat dari biasanya padahal dalam waktu tiga bulan ini kecemasanku sudah mulai berkurang dari biasanya. Setiap bangun dari tidur di pagi hari, ketakutan langsung melandaku.
Aku sangat takut luar biasa. Waktu itu, tingkat kesembuhan di Indonesia masih belum sebanyak sekarang. Kematian lebih banyak digaungkan oleh media. Antibodiku yang lemah membuat kondisi mentalku semakin drop. Kata orang tuaku aku anak yang ringkih atau gampang sakit. Ya, memang kenyataannya seperti itu. Itu salah satu faktor yang membuatku sangat takut. Waktu itu, aku masih di kosku. Kegiatanku hanya beres-beres kos, tidur, masak, dan main handphone. Aku tidak keluar kos selama dua minggu. Semua persediaan barang kubeli melalui online. Rasa jenuh mulai menguasaiku. Tidak ada yang ku pandang selain kamar kos. Rasanya aku ingin pulang ke rumah. Namun, ada ketakutan aku pembawa virus untuk orang tuaku. Suatu sore, aku pernah merasa seperti kehilangan kesadaran. Aku ingin teriak. Rasa cemas dan ketakutan benar-benar mencekikku. Aku mulai linglung. Kakiku gemetar, suaraku pun ikut bergetar. Aku benar-benar takut. Aku terus berdoa. Satu-satunya yang bisa kuandalkan adalah Tuhanku. Aku menyebut-Nya terus menerus. Aku tidak mau pingsan. Aku yakin aku kuat. Tuhanku yang membuat aku kuat. Untungnya saat itu, aku sedang membuat donat bersama kakakku. Pikiranku bisa teralihkan dengan itu. Aku butuh waktu 30 menit untuk memenangkan tubuh dan pikiranku. Terima kasih, Tuhan aku berhasil.
Orang tuaku tahu akan penyakitku. Mereka terus menyuruhku untuk pulang ke rumah. Aku mulai kesal. Aku sayang mereka. Aku tidak mau mereka tertular. Aku meyakinkan mereka bahwa aku dan kakakku aman di Jogja. Namun, tetap saja orang tuaku setiap hari menyuruhku untuk pulang. Hatiku mulai terketuk. Aku berpikir jika perintah orang tua itu tidak pernah salah. Perintah mereka pasti ada sebuah pertanda baik. Aku bingung. Setiap hari aku berdoa meminta jalan yang terbaik untuk rasa bingungku. Banyak hal yang aku pikirkan. Aku takut jika di kereta ada pembawa virus dan aku tertular. Ditambah aku baru saja membaca berita seorang mahasiswi meninggal karena pulang ke kampung halamannya. Akan tetapi, aku mau menurut kehendak Tuhanku. Aku yakin, jika Tuhan izinkan aku pulang, Dia pasti akan melindungiku. Lagi pula, Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku butuh orang tuaku. Dengan bertemu mereka, aku akan jauh lebih tenang. Aku bisa melihat pemandangan yang lain selain sebuah kamar kos. Akhirnya, kuputuskan untuk pulang kampung bersama kakakku naik kereta pada 15 April 2020. Di dalam kereta tidak banyak orang. Sepi sekali. Lagi-lagi kecemasan melandaku. Aku tidak bisa tidur di dalam kereta, makan pun tidak selera. Kakiku terus-menerus gemetar dan lemas. Aku hanya bisa melihat pemandangan di luar kereta sambil menyebut nama Tuhanku. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku sedang takut kepada kakakku. Aku memilih untuk memendam dan mengatasinya sendiri. Hanya dengan cara menyebut Sang Khalik dan memusatkan pikiranku kepada hal yang positif membuatku lebih tenang. Pada saat itu aku memikirkan bahwa aku akan baik-baik saja dan Tuhan selalu melindungiku. Butuh waktu dua jam untuk menenangkan pikiranku. Setelah itu, aku berangsur-angsur tenang. Aku kembali berhasil!
Seminggu kemudian, aku mulai melakukan meditasi. Hal itu belum pernah aku lakukan. Itu karena kesibukanku sebagai mahasiswa tingkat akhir yang mempunyai target dan tujuan. Aku hanya bisa terapi bertemu dengan psikolog, berdoa, mensugesti hal positif kepada diriku sendiri. Aku ingin melakukan meditasi karena selama seminggu ketika aku melakukan karantina mandiri, penyakit mentalku sering sekali kambuh. Akhirnya, aku memutuskan untuk melakukan meditasi di ruang keluarga. Aku mencari-cari lagu dan arahan untuk meditasi. Kebetulan, kondisi rumah mendukung. Orang tuaku bekerja, kakakku di kamar.
Aku mulai memejamkan mataku, memposisikan diriku senyaman mungkin, aku mulai fokus dengan lagu dan arahan orang yang menuntun meditasi di youtube. Aku menarik nafas dalam-dalam kutahan selama tiga detik lalu kuhembuskan secara perlahan. Ketika aku menarik nafas perutku maju ke depan. Namun, ketika aku menghembuskan nafas perutku tertarik ke dalam. Kalian tahu, apa yang aku rasakan? Rasa takut dan cemasku seperti sedang berkelahi. Aku merasakan kekuatan mereka yang mengikatku. Di sekitarku aku juga merasakan mereka sedang melonjak. Aku pelan-pelan membuka mataku. Aku tidak sanggup menghadapinya. Cukup bagiku melakukan meditasi selama lima menit per hari.
Sore harinya, setelah meditasi aku merasakan kebahagiaan dan kelegaan dalam batinku. Akhirnya kulakukan hampir setiap hari. Aku juga mulai berolahraga. Aku merasa fisikku lebih ringan. Aku pernah membaca katanya cemas bisa menurunkan imun dalam tubuh dan aku tidak mau seperti itu terus menerus. Setiap mandi aku berkata aku sehat, aku harus berpikir positif agar imunku kuat. Salah satu caraku untuk menenangkan pikiran denan cara mandi. Air yang tersentuh dengan tubuh membuat tubuhku relax. Aku mau bersama-sama melawan Covid-19.
Tidak sampai di situ saja. Kadang ketakutan dan kecemasanku menang menguasaiku. Ada rasanya ingin putus asa. Ada rasa tidak mampu untuk bertahan. Apalagi melihat keadaan Indonesia yang semakin rumit. Kasusnya semakin banyak. Namun, aku harus menguatkan diriku sendiri. Aku mau menang atas pandemi Covid-19. Aku tidak mau menyerah. Rasa lelah pasti ada. Aku lelah dengan ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran yang terus menghantuiku. Aku yakin secara fisik aku sehat. Namun, penyakit mentalku membuat asam lambungku naik terus menerus, kekurangan jam tidur karena tidak bisa tidur, dan jantung agak sering berdebar-debar. Aku sadar bahwa aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri dan kekuatan dari Sang Pencipta. Selama progam di rumah saja, aku lebih tahu tentang diriku. Kapasitasku menonton berita setiap harinya, kegiatan yang memiliki efek samping buruk atau positif untuk mentalku, meditasi, berolahraga, minum vitamin, makan yang sehat, berjemur, mandi dan jam tidurku. Semuanya mulai kuperhatikan. Aku harus bisa mencintai diriku sendiri. Layaknya mencintai sesuatu, aku harus memberikan kepedulian pada diriku sendiri. Memang untuk saat ini belum bisa aku terapkan 100%. Namun, aku terus mencoba dan berjuang. Aku paham bahwa perjuanganku harus dua kali lipat dari orang normal.
Jangan mengira jika aku selalu berhasil. Aku pernah gagal untuk menenangkan diriku sendiri. Ketika hal itu terjadi, aku merasa tidak kuat, tidak layak dan ingin bunuh diri. Namun, menurutku itu bukan sebuah jalan keluar yang terbaik. Tidak mudah memang untuk bertahan hidup dalam kondisi seperti ini. Bebanku bertambah. Jika sebelum Covid-19 aku harus bisa berdamai dengan ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran diriku sendiri, saat ini harus ditambah berdamai dengan Covid-19. Dalam perenungan meditasiku, ada banyak sekali hal positif yang terbit pada pikiranku. Salah satunya, pemikiran bahwa manusia diajarkan untuk bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Saat ini, memang belum ada vaksin yang ditemukan. Akan tetapi, pasien sudah banyak yang sembuh. Kesembuhan mereka bukan dari obat-obatan semata. Namun, hal terpenting adalah pikiran dan tekad mereka untuk sembuh. Apalagi orang tanpa gejala. Mereka sangat bisa untuk menyembuhkan diri mereka sendiri. Kesembuhan mereka berawal dari pikiran positif mereka bahwa mereka pasti sembuh.
Covid-19 bukan hanya penyakit virus. Covid-19 adalah sebuah perenungan akan diri sendiri. Jalan keluar terbaik saat ini adalah pikiran dan tekad positif. Semakin tinggi pikiran positif pasien Covid-19 untuk sembuh, maka kesembuhan pun memihak pada mereka. Tanpa sadar bahwa Covid-19 mengajarkan tentang kesembuhan yang bisa diciptakan oleh diri sendiri. Aku belajar bahwa jika aku mempunyai pikiran positif untuk sembuh dari penyakit mentalku, kesembuhan pun akan memihak padaku. Aku dan pasien Covid-19 sama-sama berjuang untuk menyembuhkan diri melalui pikiran positif. Imun semakin kuat ketika pikiran seseorang positif.
Covid-19 menuntunku untuk menjadi pribadi yang mencintai diri sendiri. Selama ini aku sadar bahwa mencintai diri sendiri itu penting. Tidak mudah untuk mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri bukan berarti egois. Mencintai diri sendiri yang diikuti dengan kebijaksanaan. Ketika aku sudah mencintai diri sendiri akan banyak pikiran positif yang hadir dalam jiwa dan otak. Pikiran positif juga bisa dijadikan kekuatan untuk bertahan hidup. Aku sudah mengalaminya. Kenyataanya, aku mampu bertahan. Jika aku yang memiliki penyakit mental bisa, aku yakin kita semua pasti bisa! Ayo, kita bersama-sama berjuang melawan Covid-19 dengan mencintai diri sendiri dan berpikir positif!
Tentang penulis:
Louditta Ristyasa Rannu adalah seorang mahasiswi tingkat akhir di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Ia lahir di Cirebon, Januari 1998. Perempuan yang biasa dipanggil dengan Louditta ini memiliki hobi menulis sejak kecil. Ia memiliki sebuah blog untuk menuliskan segala sesuatu yang dirasakan tetapi tidak bisa diutarakan kepada orang lain. Selain itu, anak kedua dari dua bersaudara ini memiliki cita-cita menjadi seorang guru bahasa Indonesia. Tidak heran jika saat ini ia menempuh pendidikan di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia dapat dihubungi via pos-el: ditharisty@gmail.com
Sumber: gambar depan dari internet