oleh: Naila Fauzia Rahmani
Terhitung sejak pertengahan Maret, saat kabar tentang wabah corona mulai memenuhi beranda, kami memutuskan untuk mendahului meliburkan anak kami yang duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Saat itu sekolah belum menerbitkan pengumuman libur sekolah. Sebagian anak masih masuk seperti biasa. Kami meminta ijin pada guru TK anak kami dan beliau memperbolehkan. Baru sepekan kemudian sekolah akhirnya mengumumkan libur.
Hingga saat ini, entah sudah berapa kali pengumuman terkait libur sekolah direvisi. Diperpanjang. Lagi dan lagi. Sampai pada suatu hari, sekolah mengumumkan anak-anak diminta masuk sekolah kembali padahal sebelumnya sudah ditetapkan bahwa libur sekolah adalah sampai akhir bulan. Ternyata, itu semacam obat kangen dan bosan setelah sekian lama anak-anak di rumah saja. Dalam sepekan, anak-anak hanya masuk satu kali dan sekali masuk hanya satu jam. Setelah itu, pulang. Pun jumlah siswa yang berangkat, hanya 2 orang tiap sesinya. Keputusan ini tentu setelah ada wacana tentang new normal.
Sering terlambat mengumpulkan tugas online, tak masuk sekolah selama berbulan-bulan, juga tak ada ujian akhir, tetapi bisa dapat ijazah. Inilah yang terjadi pada anak kami di tahun cantik 2020 ini. Pun dengan sebagian besar siswa di luar sana, tentu mengalaminya juga. Sudah mendaftar sekolah dasar, mengambil bahan seragam, tetapi entah kapan akan mulai bertatap muka secara langsung dengan guru dan teman-teman baru di kelas. Sungguh tahun ini teramat istimewa. Angkatan korona, kelak siswa-siswa itu akan menyebut demikian diri mereka.
Siapa sangka 3 bulan sudah, anak-anak di rumah saja. 24 jam sehari, berada dalam jangkauan kami. Tak pernah terbayang sebelumnya, selama 7 tahun usianya, masa itu terulang kembali, tahun ini. Masa-masa di mana jagoan kami hanya bertemu dengan kami selaku orangtuanya. Bedanya, dulu dia masih bayi. Baru bisa menangis dan menangis, makan selalu disuapi, ke mana-mana harus digendong. Sekarang dia sudah bisa berlari, makan sendiri, mandi sendiri, dan dengan terampilnya bercerita tentang banyak hal pada kami.
Mengapa harus ada covid-19 tahun ini? Sebagian penduduk bumi berpendapat bahwa wabah ini adalah konspirasi, rekayasa, sudah direncanakan. Benarkah? Bisa iya, bisa tidak. Meskipun ini adalah konspirasi dan rekayasa semata, bukankah kita sudah sangat merasakan dampaknya dalam kehidupan? Apakah ketika kondisi saat ini hanyalah sebuah rekayasa, itu berarti wabah ini bisa dianggap tidak ada atau tidak berbahaya? Tidak. Sama sekali tidak. Covid-19, darimana pun ia muncul, ia nyata adanya.
Lihatlah, berapa korban yang berjatuhan akibat covid-19? Setiap hari kian meningkat, bukan? Lihatlah, berapa tenaga medis yang berada di garda terdepan dan akhirnya juga menjadi korban? Semua ini fakta, bukan hoaks.
Lalu, harus bagaimana?
Sejatinya, semua yang ada di dunia ini adalah serba tidak pasti. Roda kehidupan terus berputar tanpa bisa kita hentikan. Sekarang senang, nanti bisa saja sedih. Hari ini sukses, besok belum tentu. Jualan kita saat ini banyak yang beli, lusa bisa jadi merugi. Tinggal bagaimana kita menyikapi.
Covid-19 membuat segalanya berubah, lebih tepatnya dipaksa berubah. Rencana bisnis, penerbangan, jadwal kegiatan sekolah, rutinitas bekerja, semuanya mau tidak mau harus diatur ulang. Termasuk cara kita membersamai anak-anak. Cara kita mendidik mereka. Kita tak akan pernah tahu ketika anak-anak dewasa kelak, jaman akan menjadi seperti apa.
Bertahan. Salah satunya kita harus mengajarkan kepada anak-anak, bagaimana agar bisa bertahan di segala keadaan. Kita tak akan selamanya ada bersama mereka. Bagaimana agar mimpi-mimpi yang sudah terajut, tetap bisa dicapai meskipun kondisi sedang krisis. Bagaimana agar bisa tetap berbagi meskipun kebutuhan diri sendiri mungkin tak selalu tercukupi. Bagaimana menjadi pribadi yang tangguh, tahan banting, tak mudah menyerah, tak mudah putus asa.
Mulai dari rutinitas sehari-hari. Jika sebelumnya kita membiarkan anak-anak bangun siang, mulai saat ini kita harus berusaha agar mereka bisa bangun lebih awal. Jika sebelumnya kita membiarkan mereka bersantai sambil nonton televisi atau main game di pagi hari, mulai detik ini kita harus berjuang mengajak mereka untuk bersama-sama berkarya meski usia masih terbilang dini.
Salah satu hikmah adanya wabah ini adalah pendidikan anak otomatis menjadi tanggungjawab orangtua sepenuhnya. Suami istri sudah seharusnya bekerjasama dalam mendidik anak-anak. Tidak hanya suami, tidak hanya istri. Bahkan orang-orang di sekitar mereka seperti tetangga, jika memungkinkan tidak mengapa diajak bekerjasama. Bukankah mereka juga memiliki anak-anak yang wajib dididik?
Capek ah ngomong terus tapi anak-anak tidak mau nurut! Sabar, ya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat anak-anak menuruti ajakan dan arahan kita sebagai orangtua. Jika satu cara belum berhasil, cobalah cara yang lain. Jangan pernah putus asa.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan bersama anak-anak sekaligus mendidik mereka untuk bertahan di segala keadaan, antara lain berkebun, mengerjakan pekerjaan rumah, bisnis kecil-kecilan, memasak, membuat mainan sendiri dan lain-lain. Berkebun, dengannya anak-anak akan melihat betapa untuk mendapatkan hasil kebun harus bersabar menunggu tanaman itu tumbuh. Harus merawatnya dengan baik agar mendapatkan hasil seperti yang diharapkan.
Mengajak anak-anak membersihkan rumah supaya mereka belajar bahwa rumah yang bersih dan rapi tidak datang dengan sendirinya. Harus dibersihkan, dirapikan, dan mainan-mainan yang berserakan dibereskan. Dengan membantu memasak, anak-anak juga belajar bahwa untuk bisa makan sesuatu butuh proses. Dicuci dahulu bahan-bahannya, diracik dulu bumbunya, baru kemudian dimasak di atas kompor dan setelah itu baru bisa dinikmati.
Kalau rumah jadi berantakan, bagaimana? Turunkan standar. Kita sedang mempersiapkan masa depan generasi penerus. Rumah berantakan itu bisa dirapikan lain waktu, tetapi masa kanak-kanak tidak datang dua kali. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari.
Sebuah catatan, jika kita berkegiatan bersama anak-anak. Ada kemungkinan mereka pada awalnya antusias tetapi ditengah jalan tiba-tiba mood berubah. Di sini kesabaran kita diuji. Tetaplah menghadirkan diri sepenuh hati membersamai mereka apapun yang terjadi. Coba cek ke belakang, selama ini apa yang kita lakukan ketika mendampingi anak-anak bermain ataupun belajar. Sudahkan kita hadir secara utuh didekat mereka? Atau masih sambil pegang smartphone atau mengerjakan pekerjaan yang lain? Barangkali kita seringkali mengeluhkan kenakalan anak-anak. Sebenarnya mereka hanya membutuhkan perhatian kita. Artinya selama ini kita belum benar-benar membersamai anak-anak.
Misalnya, selama liburan ini mereka terlalu sering main game atau nonton televisi. Cobalah untuk bermain bersama mereka. Menyelami dunia mereka. Sesekali menjadi anak-anak bersama mereka. Lihat apa yang terjadi.
Ilmu agama juga tak kalah pentingnya. Adanya Covid-19 ini, tentu tak luput dari takdir yang ditentukan Sang Pencipta. Rencana yang kita pikir sudah matang dan pasti berhasil, ternyata tidak seperti yang diharapkan. Ada Sang Maha Pencipta yang Maha Menentukan. Anak-anak harus diajarkan tentang ini. Agar tak lupa menyelipkan doa pada-Nya di setiap usaha yang dilakukan.
Membentengi anak-anak dengan ilmu agama akan membuat mereka kelak tak mudah goyah oleh godaan jaman dan siap sedia menghadapi segala kondisi yang terjadi. Tentu dengan teladan yang baik dari kita sebagai orangtua. Tidak hanya menyuruh anak-anak untuk belajar ilmu agama sedangkan diri kita justru tidak berusaha untuk sama-sama belajar. Anak-anak melihat, mereka akan mengerjakan apa yang dilihatnya.
Jika kita mencontohkan sesuatu yang baik, mereka juga akan melakukan hal yang sama. Begitupun sebaliknya. Jika kita mencontohkan yang kurang baik maka mereka pun demikian.
Pada akhirnya, ada baiknya kita banyak bersyukur dengan adanya wabah ini. Adanya Covid-19 yang hadir di tengah-tengah kehidupan selayaknya kita ambil hikmahnya. Kemarahan dan protes dengan adanya wabah ini, tak akan menyelesaikan masalah. Justru membuatnya semakin rumit. Lebih baik jadikan motivasi dan pelajaran agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ya. Guru itu bernama Covid-19.
Yogyakarta, 14 Juni 2020
Tentang Penulis:
Penulis dengan nama lengkap Naila Fauzia Rahmani ini lahir di Banjarnegara, Februari 1989. Ia menempuh jenjang pendidikan TK hingga SMA di Banjarnegara. Tinggal di Yogyakarta sejak melanjutkan studi di Universitas Negeri Yogyakarta, 2007 – sekarang. Ibu rumah tangga yang satu ini menikmati hari-harinya sebagai guru, koki, pengasuh, untuk anak-anaknya di rumah. Beberapa antologi yang pernah dibukukan di antaranya “Tentang Kehilangan”, oleh Penerbit Laditri Karya. “Kisah Perjalanan Penulis” dan “Perempuan Menulis”, oleh Penerbit MJB. “Eksistensi Keluarga di Era Milenial”, oleh Penerbit Edwrite Publishing. Ia dapat dihubungi via pos-el penulisbuku89@gmail.com
Sumber: gambar depan dari internet