Universitas Gadjah Mada Writing for Healing
  • BERANDA
  • TENTANG
  • KISAH
  • VIDEO
  • Beranda
  • Kisah
  • Kelahiran New Normal

Kelahiran New Normal

  • Kisah
  • 8 September 2020, 10.28
  • Oleh: sitiqotijah2018
  • 0

Tiba juga pada pemberhentian frasa yang diagungkan sebagai New Normal. Setelah turun dari motor di depan sebuah siku pasar Kota Budaya (Yogyakarta) aku dapati derai suara ibu-ibu  penjual  bawang putih plastikan bersama rekan sejawatnya penjual jamur tiram kiloan. Sepertinya mereka telah lama tidak saling bersua, ibu penjual bawang putih itu menepuk beberapa kali punggung temannya dengan kipas bambu miliknya.

“Yu! Pie kabarmu? Eh! Ngesok ojo lali nggowo masker!” terang penjual bawang putih.

“Mengko nak ono petugas opo uwong sing ngenehi!” dengan santai penjual jamur tiram itu menjawab.

Aku lewati saja, tidak enak jika terlalu menikmati pembicaraan mereka. Aku pikir sudah lama pandemi ini berlangsung. Tengah genap ramadhan selesai dan pungkas pula lebaran di  situasi pandemi ini. Ucapan ibu penjual jamur tiram tersebut membuatku menengok ke arah pertigaan traffic light sebelum memasuki induk pasar, hanya terdapat penjual koran dan pengendara yang berhenti memantau lampu lalulintas tanpa nama. 

Di dalam benakku, mungkin ibu penjual jamur tiram itu punya pengalaman bagus. Sering kali ketika berangkat atau pulang kantor sewaktu awal pandemi di kota ini mulai menyeruak, aku dapati orang-orang dermawan bersedekah. Pemandangan tersebut tidak hanya di instagram atau di televisi, langsung di depanku. Ada yang membagikan masker, menyemprotkan hand sanitizer ke tangan-tangan pengendara, dan membagikan sembako. Tapi itu dulu, tercatat sudah tiga bulan pandemi ini meraja serta banyak hal yang terjadi.  Aneh juga pikirku, sekarang cukup langka aku temui kebaikan-kebaikan orang yang peduli di tengah pandemi ini. Lucunya lagi aku juga hanya bisa berharap tidak seperti orang dermawan yang aku temui tersebut. 

Aku masuki induk pasar, begitu riuhnya wahana tersebut. Bahkan sampai ada kucing lari yang  tergelincir di kaki salah satu pengunjung karena ketakutan. Untung saja adikku sudah menyiapkan catatan apa saja yang harus aku beli. Maskerpun aku pasang dobel, siap menyelam ke sela-sela arah kios yang menjadi langgananku. Terdapat beberapa pengunjung yang memiliki perlengkapan keamanan lebih dengan memakai sarung tangan plastik di tangannya. Aku belajar dari persiapan pengunjung itu.

Rasa was-was perlahan membayangiku. Aku pikir bukan hanya aku saja yang cemas, pengunjung lain pun cemas. Tapi tempat ini adalah pasar, dengan beberapa rupiah bisa mendapatkan keperluan pokok yang cukup untuk beberapa hari ke depan. Seperti orang yang teramat pede, dalam hati harus yakin dan aman.

“Buk, beli tepung gandum sekilo, minyak barko sekilo, sama tepung beras sekilo,” akhirnya aku tiba  di sebuah kios sembako.

“Apa, Mas?” tanya ibu penjual sembako itu.

“Beli tepung gandum sekilo, minyak barko sekilo, sama tepung beras sekilo Bu,” terangku kepada ibu penjual sembako.

“Oh ya, Gandum sekilo, tepung beras sekilo, sijine apa Mas?” kembali beliau bertanya.

“Barko Bu, minyak barko sekilo,” kataku.

“Ow minyak, gak denger Mas tadi! Hahaha!” jelas ibu penjual sembako dan aku pun ikut tertawa.

Selain keadaan pasar yang kembali ramai, suaraku juga agak mengecil di telinga orang lain. Uniknya ibu penjual sembako itu sudah tidak mengenaliku dan lupa memberikan coretan harga seperti biasanya, seketika aku membuka masker dan berucap terima kasih.

“Matur nuwun, Bu.”

“Owalah Masse…” Ibu penjual sembako tersebut juga membuka masker serta tersenyum dan memberikan belanjaanku. Aku pamit dan menuju kios lain.

Keadaan serupa juga terjadi di kios-kios lain. Perjalanan pandemi ini memunculkan momen-momen baru serta menguji pola hidup. Masyarakat tetap harus hidup di tengah siklus baru ini, tidak hanya anak-anak namun semua kalangan usia. 

Setelah dari tempat ini aku pasti dihadang adikku untuk segera mandi dan mengganti semua pakaian. Pakaian harus segera dicuci, intinya semua bersih. Aku jadi semakin rajin mencuci dan menghabiskan deterjen. Namun itu semua demi kebaikan, dan bersih adalah hal yang baik. Semua orang kini perhatian dengan hal itu, meski penyesuaian dan ketertiban keramaian seperti pasar ini masih berlangsung.

Beberapa kali petugas pasar melalui pengeras suara kembali mengingatkan untuk pedagang dan seluruh pengunjung mengikuti protokol covid-19. Suara-suara itu meliputi pemakaian masker, jaga jarak dengan pengunjung lain, tidak berlama-lama di pasar, dan segera mencuci tangan di tempat yang telah disediakan oleh pihak pasar. Sudah lengkap pikirku imbauan tersebut.

New normal bukan lagi sekadar wacana. Masyarakat belajar menerapkan itu dengan kemampuan masing-masing. Potongan-potongan sosialisasi new normal juga tertempel di papan pengumuman sisi luar pasar. Petugas becak yang berjaga serta mengantar pulang pengunjung mengayuh dengan wajah bermasker mereka.

Keluarlah aku dari pasar. Kembali melewati ibu-ibu penjual bawang putih dan jamur tiram. Seketika aku berhenti dan terkejut, ibu penjual jamur tiram tersebut sudah memakai masker. 

“Jamur Mas?” Ibu penjual jamur tiram tersebut mengagetkanku, mungkin karena aku memperhatikannya.

“Iya Bu, saya beli setengah kilo,” spontan saja aku beli karena ada uang sisa dari belanja tadi, serta jamur juga kesukaan adikku, jadi tidak masalah jika aku beli bahan lebih. 

Di samping ibu penjual jamur itu sudah tidak ada lagi ibu penjual bawang putih plastikan namun dagangannya masih ada. Justru ada anak kecil seusia sepuluh tahunan memakai seragam sekolah namun roknya tidak kenakan, hanya celana panjang biasa sambil nempel-nempel dengan ibu penjual jamur sambil membawa gawai.

“Putrinya Bu?” aku tiba-tiba saja bertanya.

“Inggih, Mas, ini tadi anak saya ngantar masker. Ini lagi ngerjain PR sekolah, barusan video call sama bu gurunya,” terang ibu penjual jamur itu kepadaku.

“Rajinnya jam setengah delapan sudah absen sama gurunya,” aku berkomentar. 

Anak itu tersenyum malu-malu dan makin nempel dengan ibunya.

“Gapapa, Mas, malah seneng kalau buat belajar hapenya. Biasanya anak saya suka download lagu-lagu sama gem (game)! Nah sekarang pelajaran-pelajaran buat ngerjain PR Mas. Tapi mainnya ya tetap aja Mas!”

Aku mengangguk dan tidak berani memberi saran ataupun menanggapi dengan kata-kata. Orang tua memiliki cara masing-masing untuk memotivasi, mengkritik, dan memberikan kebebasan kepada anak-anaknya. Terlebih ibu penjual jamur tiram tersebut sama dengan ibu-ibu yang lainnya di pasar ini. Menjajakan dagangannya untuk keberlangsungan hidup keluarga di tengah pandemi. 

Sang anak membaca pelan-pelan dan memamerkan materi pelajaran ke arah wajah ibunya. Ibu penjual jamur tersebut membaca sebisanya dan mengiyakan anaknya sambil memberi motivasi agar anaknya yang membaca sendiri untuk kelancaran membacanya.

Pesanan sudah aku terima, aku pun pamit kepada ibu penjual jamur tiram beserta anaknya yang sedang belajar jarak jauh.  Anak penjual jamur tiram dan jutaan anak di negeri ini menghadapi hal yang belum pernah dihadapi orang tua mereka.  Kini aku dan mereka pun berusaha menjadi makhluk yang paling adaptif dengan hal fisik maupun batin. Sisi keunikan, kreativitas, dan kebaikan terlahir di semua arah. Semoga kita semua dimampukan, dimudahkan, dan mampu melewati keadaan ini, aamiin.

Oleh : Ichsan Nuansa

 

Profil Penulis:

Ichsan Y. Nuansa Putra, M.Pd., nama sapaan Ichsan Nuansa berprofesi sebagai  Pendidik (guru) Bahasa Indonesia SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Anggota MGMP Bahasa Indonesia Kota Yogyakarta, anggota MGMP Bahasa Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, dan anggota FAS LSBO PP Muhammadiyah. Nomor telepon/WA 0818275515. Email Ichsannuansa@gmail.com

 

Sumber gambar depan dari internet

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Recent Posts

  • WfH
  • TEGAR
  • SEPENGGAL KISAH Ph.D. SELAMA PANDEMI COVID-19
  • IMAN DAN IMUN
  • AKU DAN ANAKKU

Archives

  • May 2021
  • April 2021
  • October 2020
  • September 2020
  • August 2020
  • July 2020

Categories

  • About
  • Edukasi
  • Guest Writers
  • Kisah
  • Kisah2
  • kisah3
  • Video
Universitas Gadjah Mada

Tim Pengabdian Sekolah Vokasi,

Universitas Gadjah Mada

Gedung Iso Reksohadiprodjo, Sekip Unit 1,

Caturtunggal Depok, Sleman, Yogyakarta 55281

       wfh.sv@ugm.ac.id

       0274-541020

 

 

  • Tentang Kami

Informasi

© 2020 Writing for Healing

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY