Nyaris gelap, belakangan ini bukan karena matahari meredup di Kota Surabaya, melainkan lampu kamarku yang belum dinyalakan. Gawaiku tiba-tiba cerah berdering. Seketika aku terbangun, meraih gawai tua itu di atas meja mungil di pojokan kamar kosanku yang kecil. Bagiku notifikasi ini tak asing, benar saja sebuah pesan WhatsApp masuk tak lama setelah beberapa hari ini disibukkan dengan realita laporan praktikum yang membuat pikiranku semakin pening. Betapa tidak, dampak pendemi Covid-19 ini membuat semua lapisan masyarakat dibuat pusing, tak luput juga mahasiswa awal sepertiku. Presentasi yang seharusnya dilakukan di UGM, kini harus terhenti sementara waktu hingga situasinya Covid-19 mereda. Kampus mau tidak mau memberlakukan kebijakan “Lockdown” sembari mengarahkan mahasiswanya berkuliah daring dari rumah masing-masing.
“Semua ini pasti berlalu, aku yakin akan hal itu. Tugasmu bukan menyalahkan kampus yang tak secara langsung mengobrak abrik timeline rencana studiku. Bukan juga menyalahkan lambannya penanganan pemerintah, yang berusaha menjamin ekonomi negara di tengah wabah. Aku yakin ada skenario terbaik dari Allah di balik ini semua. Ada hikmah kok, kamu nya aja yang kurang peka” batinku.
Seketika teringat Firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 216, yang artinya begini “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Rasanya relate banget ya, tak sadar lamunanku kemana mana.
Hingga beberapa saat aku teringat, “Oh iya ada pesan masuk, jangan-jangan informasi presentasiku!!” Setelah kubuka ternyata dari Mas Ade.
“Ah syukurlah, aku belum siap jikalau dekat-dekat ini presentasi,” batinku lagi menenangkan diri.
Mas Ade ini adalah kating di kampusku. Aku mengenalnya saat pertama kali mengikuti kegiatan kerelawanan beberapa bulan lalu. Beliaulah salah satu yang akrab denganku saat kegiatan kala itu. Hingga akhirnya kita sama-sama sering terjun di berbagai progam relawan di salah satu lembaga kemanusiaan. Tentu saja, aksi kemanusiaan disaat pendemi Covid-19, kini silih berganti berdatangan. Qodarullah aku masuk di dalam Satgas (Satuan Tugas) Covid-19. Dimana tugas utamanya melakukan kegiatan aksi desinfektan. Di samping itu aksi jaring pengaman sosial tak luput kami lakukan.
“Assalamu’alaikum, Rek, besok yang kosong siapa aja?” tanya Mas Ade.
“Waalaikumussalam, aku kosong, Mas,” jawabku.
“Waalaikumussalam warahmatullah, jelas kosong aku, mah, Mas,” jawab Rama.
Teman teman satgas lainnya tak mau kalah ikut merespons. Ada sekitar lima orang di dalam tim ini termasuk juga Rama.
“Ada penyemprotan di dua tempat sama operasi makan lagi nih besok, kalian siap-siap ke kantor jam 8 pagi ya,” kata Mas Ade.
“Siap, Mas,” jawabku.
Keesokan harinya motor Rama sudah disiapkan, saatnya beraksi untuk kemanusiaan. Salah satu momen dimana diriku bisa setidaknya mengabdikan diri. Walaupun kecil semoga meringankan. Tak berapa lama sampailah diriku di kantor. Seperti biasa kalah cepat sama Mas Aldi. Beliaulah pencetus gerakan kerelawaanan MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) Surabaya.
“Hayoo, jam berapa ini, Rek,” celetuk Mas Aldi.
“Loh wkw, kalah lagi nih, yailah mas yang lain juga belum datang, hehe,” jawabku.
Padahal baru pukul 08.05, artinya baru lima menit telatnya. Tapi Mas Aldi adalah orang yang disiplin waktu. Selalu jadi reminder untukku yang belum maksimal memanfatkan waktuku.
“Iya tapi seorang relawan harus sigap, ga boleh telat, selalu siap, kapan dan di manapun,” jawab Mas Aldi.
“Siap pak bos,” jawabku sambil memarkirkan motor.
Sembari menunggu yang lain datang, aku bersama Mas Aldi menyiapkan segala keperluan untuk di masukkan ke mobil. Satu persatu agen kebaikan datang. Agen kebaikan? Iya, aku yang menjulukinya. Terlihat berlebihan? Mungkin tidak. Mereka masih ingat dengan sesama. Meluangkan waktu diselah-selah kesibukannya. Aku apresiasi segala tenaga, pikiran, bahkan canda tawanya yang kadang-kadang garing. Tapi tak apa, itu bukan masalah bagiku. Hari semakin siang, kami menuju tempat pertama yakni Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Setibanya disana masjid tampak sepi, hanya ada dua penjaga yang menghampiri kami. Kami bergegas keluar mobil mengeluarkan semprotan.
“Mas Ade ya, yang dari MRI?” tanya penjaga.
“Iya betul, Pak,” jawab Mas Ade
“Nanti yang disemprot di dalam sudah diberesin karpetnya,” kata penjaga sembari menunjukkan tempatnya.
“Siap, Pak,” jawab kami serempak.
Penyemprotan tak berlangsung lama. Setelah satu setengah jam akhirnya selesai. Kami disuguhi minuman juga cemilan. Tapi bukan itu yang menjadi tujuan atas apa yang telah kami lakukan. Kami yakin langkah kecil kami semoga menularkan. Tak berlama lama, belum sempat membuka toples kudapan, Mas Ade mengajak kami ke tempat berikutnya.
“Mohon maaf, Pak kami harus pamit, ada penyemprotan lagi di Pucang,” celetuk Mas Ade sembari berpamitan.
“Oh iya terima kasih ya, Mas, saya salut sama mas-mas ini. Cekatan sekaligus mau berkorban untuk umat, semoga Allah membalas dengan pahala berlipat. Sekali lagi terima kasih, Mas,” jawab penjaga sambil mengantarkan kami ke mobil.
“Sama sama, Pak, semoga bermanfaat dan memberikan kenyamanan jamaah,” jawab Mas Ade.
Memang saat itu kasus Covid-19 belum sebanyak seperti sekarang. Jumlah pasien positif juga masih sedikit. Sehingga masjid masih terbuka untuk sholat para jamaah. Khawatir pulang kesorean kami bergegas berangkat, walaupun belum sempat istirahat. Singkat cerita mobil kami melaju kencang menuju ke Pucang.
Setibanya disana operasi makan gratis dilakukan. Disambut dengan senyuman hangat warga setempat. Dampak Covid-19 memang luar biasa. Setelah operasi makan itu kami masih harus melakukan penyemprotan di salah satu mushola. Mushola itu tak jauh dari jalan raya. Dikhawatirkan jadi sumber virus sehingga kami diminta untuk menyemprot desinfektan. Kala itu di sore hari yg cerah di Pucang, aku beristirahat sejenak setelah melakukan penyemprotan di mushola itu. Lalu datanglah Pak RT sambil membawa secangkir kopi. Beliau menawariku kemudian duduk di sampingku sambil bertanya.
“Mas, sampai kapan bergerak?” tanya Pak RT.
Lalu aku jawab, “Sampai APD tak lagi bisa didapatkan. Sampai uang kita habis. Sampai semua desinfektan tak lagi bisa didapatkan. Sampai Allah suruh kita istirahat, lalu panggil kita untuk pulang.”
Kulihat wajah Pak RT, beliau begitu semangat mendengar jawabanku. Lalu kupandang langit, sambil menikmati senja dan ditemani secangkir kopi.
“Ahh, begitu indah hidup ini,” batinku.
Kuhentikan kegiatan berselancarku dalam menatap lagit. Banyak sekali hal yang kupikirkan. Ketika aku dapat berdalih senyum melihat kebaikan ku yang bisa kulakukan karena pandemi ini, ada orang di luar sana yang mencoba untuk memanfaatkan masa hidupnya dengan waktu yang ia punya. Mereka fokus pada kekuatan yang mereka miliki. Bukan kekuatan terbang ke angkasa atau menghilang dalam kedipan mata, mereka fokus pada hal-hal yang bisa mereka hidupi secara bahagia.
Pesanku berperanlah walaupun sedikit, barangkali pertolongan Allah dititipkan ke kita untuk hamba-hambanya yang tak jera melangitkan doa. Boleh jadi dirimu adalah perantara kebahagiaan orang lain. Kata-kata yang tak jauh berbeda juga saya ucapkan kepada orang-orang yang saya anggap penting dalam hidup saya. Namun, jawaban yang mereka lontarkan bukan yang saya harapkan. Saat itu, saya mengalah dan menyetujui apa yang mereka katakan. Jangan sampai kebahagian itu berhenti di tanganmu. Salah satu alasanku terus bergerak yaitu “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)
Oleh : Muhamad Ikhsan
Profil Penulis:

Muhamad Ikhsan dibesarkan secara konsisten dalam budaya betawi yang keras dan konservatif. Lahir 11 Desember 2000 di Kota Bekasi, meneguhkan diri pada otoritas kebebasan berpikir. Menduduki studi lanjutan perkuliahan di Universitas Gadjah Mada. Terpental dengan budaya kampus dan lingkungannya yang berbeda dengan jati diri, tidak membatasi ruang eksperimental dalam berkarya. Beberapa karya, terkumpul di medium.com/@ikhsanmuhmd. Hubungi @iksanmuhmd dalam instagram untuk obrolan lebih dalam.
Sumber: gambar depan dari internet