oleh: Hardiansyah
Miskin vs Membutuhkan
Seorang teman datang ke rumah dengan malu – malu dia berkata pelan.
“Bolehkah kami meminta paket sembako yang kemaren dibagikan pak? Kami sudah tak punya beras dan lauk”.
Aku terbelalak. Dengan cekatan kami segera membungkus tiga paket untuk beliau, ditambah dengan menu untuk berbuka secukupnya. Temanku ini mungkin bukan dari lapisan ekonomi kelas bawah. Bagi sebagian orang dia dianggap kelas menengah yang mampu. Namun apa daya Covid menghantam. Tokonya tutup sehingga sumber pemasukannya otomatis tak ada.
Aku yakin banyak orang yang seperti ini. Tidak mendapatkan prioritas bantuan apapun karena tak terdata sebagai warga miskin. Bajunya tidak lusuh, punya pekerjaan tetap. Namun sebenarnya mereka paling butuh bantuan, namun malu untuk mengungkapkan.
Di sisi lain, banyak orang yang berbaju lusuh, terdata sebagai orang miskin dan pekerjaan tak tetap. Namun, bantuan senantiasa menyapa. Untuk menu berbuka saja kadang sampai berlebih, mendapatkan 3 paket lauk setiap berbuka dari lembaga yang berbeda. Sedekah dan infak senantiasa menyasar mereka. Setiap beli sayur selalu ayam dan ikan juga dibelinya. Tak pernah ceker atau kepala ayam. Mereka memperoleh bantuan dari pihak manapun karena terdata sebagai warga miskin.
Maksud tulisanku bukan menafikan mereka yang berada di sisi lain ini, mereka harus dibantu. Namun perlu kita pahami konteks “membutuhkan itu”. Ada orang yang sengaja memantaskan diri mereka karena malu meminta pada manusia, sehingga dalam pandangan kita mereka mampu padahal butuh.
Ada yang kita nilai mampu karena rumahnya permanen namun sudah dua hari listrik tokennya mati, ada yang kita nilai mampu namun lauk setiap buka hanya garam dan air. Lalu, siapa yang akan memperhatikan mereka? Pahamilah di musim pandemi ini semua orang mampu bisa menjadi membutuhkan. Ayo saling peka, ayo saling bantu.
Awal Mulanya
Kejadiannya terasa sangat cepat. Dalam hitungan hari, Covid -19 telah menular pada puluhan orang. Tak tunggu lama untuk mendapatkan jumlah 1000 orang positif. Ekonomi ditutup, sekolah di tutup, akses transportasi dibatasi tanpa ada persiapan sama sekali. Semua orang merasakan ketidakpastian akan masa depan. Ada orang yang dulu kaya sekarang jatuh pada titik nadir kehidupan. Pemecatan di mana-mana, yang berujung pada ketidakmampuan banyak anggota masyarakat untuk mendapatkan barang konsumsi pokok. Pemilahan warga miskin dan non miskin dalam kondisi seperti ini sudah tidak relevan. Jika kita menilik Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 146/HUK/2013 tentang Penetapan Kriteria dan Pendataan Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu, terdiri atas 14 kriteria kemiskinan. Mulai dari luas rumah yang sempit, dinding dan bangunan yang sederhana hingga ketidakmampuan mengakses fasilitas kesehatan. Hal ini cukup bias karena bisa jadi orang yang mengontrak rumah berbahan material permanen dianggap kaya dari pada orang yang memiliki tanah dan rumah sendiri walaupun dalam kondisi bangunan non-permanen.
Jika kita kembali dalam aturan Islam, Islam tidak membagi miskin dan kaya dalam kriteria-kriteria semu. Sederhananya orang yang dianggap kaya adalah orang yang hartanya telah sampai “nisab” zakat dan dikenakan kewajiban membayar zakat sedangkan orang miskin adalah orang yang hartanya tidak mencapai “nisab” zakat[1].
Kembali ke pokok pembicaraan kita, suatu hari sebuah kabar yang menyedihkan datang dari salah satu sahabat kami. Karena imbas ekonomi akibat mewabahnya Covid-19, sahabat kami ini harus menjual handphone-nya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga. Padahal beliau tidak masuk dalam kategori miskin menurut pengklasifikasian dinas sosial. Ia memiliki rumah dan tanah sendiri, kebun bahkan sang istri adalah salah seorang guru swasta yang cukup besar di daerahnya. Jika sahabat kami terdampak secara ekonomi, apalagi keluarga-keluarga lainnya yang kondisi ekonominya di bawah mereka?
Mulai Bergerak
“The Power of Emak–Emak” adalah pameo baru yang dikenal dan popular saat ini. Kalimat ini menunjukkan sebuah kondisi faktual akan eksistensi kaum ibu–ibu yang luput dari perhatian kita. Baik menyentil tingkah mereka yang terkadang dianggap kocak, hingga menyentuh hal-hal luar biasa yang mampu dilakukan oleh kaum mereka. Istriku paham betul semangat kaum “emak-emak” ini.
Dengan menyadur sebuah gerakan yang hampir serupa di Jakarta, beliau segera menghubungi rekan-rekan dekatnya. Sebuah rencana kecil namun cukup membantu masyarakat yang membutuhkan. Semua bisa membantu, semua dapat ikut berperan serta. Gerakan ini menghimpun dana dari para “emak-emak” dan donatur lainnya dengan nominal yang sangat terjangkau. Hanya dengan Rp 10.000., semua orang bisa ikut berdonasi. Hasil donasi yang terkumpul dibagi dalam paket-paket kecil berisi beras ½ kg, sarden kalengan kecil 1 buah, telur 2 butir, kecap manis 1 sachet dan sambal siap konsumsi 1 sachet kecil, serta minyak goreng ukuran gelas kecil 1 buah. Nama gerakan ini adalah “Gerakan Emak-Emak Berbagi”.
Awalnya dengan donasi yang terkumpul sebesar Rp 300.000, gerakan ini mampu menyediakan 15 paket bantuan. Pada awalnya, aku dan istri yang mempaketkan bantuan tersebut. Pembagiannya pun kami lakukan dengan hati-hati mengingat Covid–19 makin menggila dan daerah kami, Bengkulu, telah masuk dalam zona merah. Aku membantu istri membagikan paket – paket kecil ini dengan membuat daftar rekan-rekan kami yang menurut kami terdampak. Tetangga adalah prioritas utama, disusul dengan teman-teman yang kami nilai membutuhkan. Kami membagikannya saat keluar rumah misalnya saat ke pasar. Seperti bola salju, semakin banyak rekan-rekan dan donatur yang mendonasikan uangnya dengan jumlah bervariasi. Kami mulai kewalahan dan harus menyusun kembali perencanaan yang matang, mulai dari pembelian produk, pembungkusan hingga pembagian. Di titik ini sumbangan mencapai Rp 1.000.000
Ketika Rumah Kami Diserbu Massa
Perencanaan dalam pembelian produk yang akan dibagi mulai dari beras, telur, sarden, minyak goreng, kecap dan sambal sachet berjalan mulus. Para “emak-emak” ini mendapatkan orang yang mampu menyediakan semua itu dan diantar ke rumah, seorang ibu muda yang akhirnya tertarik dengan gerakan ini dan akhirnya ikut bergabung. Jadi total ibu–ibu yang bergabung dengan gerakan ini ada 5 orang diantaranya adalah Bu Sri (istriku) selaku koordinator, Bu Ela, Bu Rini, Bu Ira dan Bu Ival. Aku adalah satu-satunya pria yang terlibat dalam gerakan ini. Sekretariat diputuskan di rumah kami.
Pembungkusan paket pun berjalan lancar di rumah dengan melibatkan para anggota gerakan yang rata-rata adalah tetangga kami. Proses ini berjalan dengan dramatis karena yang namanya emak-emak sulit untuk menjaga jarak (social distancing). Selalu saja ingin berkerumun dan sedikit menggosip. Saat itu terkumpul 50 paket yang berhasil dibungkus dan siap dibagi. Masalah muncul saat pembagian. Cara dan prosedur pembagian paket yang dirasa kurang efektif diganti mengingat semakin bertambahnya positif covid–19 di Bengkulu, maka masyarakat yang membutuhkan dapat langsung mengambil ke rumah kami dengan waktu yang telah ditentukan. Informasi ini kami sebarkan melalui media sosial. Karena kurang memperhatikan resiko dan dampak negatifnya, jadilah acara pembagian itu kacau. Massa menyerbu rumah kami. Perlu waktu untuk membubarkan mereka. kami juga meminta maaf karena paket yang dibagikan telah habis.
Setelah kejadian itu, kami memutuskan untuk tidak membuka donasi selama satu minggu. Bahkan semua anggota gerakan emak-emak berbagi masih trauma dengan kejadian pembagian bantuan yang kacau tersebut. Akhirnya tim emak-emak berbagi sepakat untuk mengakhiri gerakan ini. Selain tidak ingin kejadian serupa terjadi, kondisi wabah makin menghebat dan semua mengambil keputusan untuk meminimalisir keluar rumah dan hanya keluar untuk kebutuhan yang darurat saja.
Donasi Terus Bergulir
Walaupun kegiatan ini dinyatakan berakhir, namun masih saja ada orang-orang yang berdonasi. Jumlahnya pun naik dari jumlah sebelumnya yaitu mencapai angka Rp 2.000.000., Tidak mungkin uang ini kami kembalikan. Satu-satunya jalan adalah dengan meneruskan gerakan ini. Para anggota segera berkoordinasi melalui WhatsApp, empat orang menyatakan siap sedangkan satu lainnya mengundurkan diri dengan alasan kesehatan.
Berkaca dari pengalaman buruk yang lalu akhirnya para ibu–ibu ini memiliki sebuah ide agar pembagian paket bantuan tidak ricuh. Mereka menghubungi beberapa rekan yang siap menjadi relawan yang membagikan paket. Mereka kami anggap sebagai simpul massa yang tugasnya adalah mendaftar orang-orang yang menurut mereka berhak menerima dan membutuhkan di lingkungan masing-masing serta membagikannya langsung ke orang yang membutuhkan. Ada tiga orang simpul massa yang berhasil direkrut dengan domisili di kecamatan yang berbeda, sehingga bantuan lebih merata dan menjangkau daerah–daerah yang jauh dari tempat tinggal kami. Kami juga dibantu oleh tim relawan Muhammadiyah yang tergabung dalam Muhammadiyah Covid 19 Command Center (MCCC) Bengkulu yang tertarik dengan gerakan emak-emak ini. Mereka membantu menambahkan paket berupa sirup dan mengerahkan relawan muda untuk membantu tugas pembungkusan paket dan pembagian paket. Hingga saat ini, gerakan emak-emak berbagi masih berjalan dan donasi yang dikumpulkan telah menembus angka Rp 3.000.000 rupiah. Total bantuan yang telah dibagikan lebih dari 500 paket.
Penutup
“Small is Beautiful” ujar E.F. Schumacher di mana kalimat ini menjadi judul bukunya yang terkenal itu. Sebuah aksi kepedulian dengan melibatkan orang banyak dengan nominal harga yang ringan nampaknya belum banyak digagas dan diadopsi sebagai gerakan sosial. Kaum “Emak–Emak” yang selalu diidentikkan dengan tanggung jawab domestik mereka ternyata menyimpan potensi yang luar biasa dalam mendesain sebuah gerakan.
Sesaat aku terkenang dengan Prof. Muhammad Yunus yang membangun bank bagi kaum miskin di Bangladesh dengan melibatkan para ibu-ibu dengan modal yang kecil namun memiliki dampak ekonomi yang luar biasa. Tesis Schumacher diwujudkan dengan sangat baik oleh Yunus. Bergabung dengan gerakan emak-emak berbagi ini membuatkku menyadari bahwa apa yang dilakukan Muhammad Yunus sangat tepat.
[1] “Nisab” adalah kadar atau jumlah minimal. yang dikenakan zakat. Masing – masing jenis harta ada Nisabnya. Lihat Al-Jazairi, 2008 hal 486 – 496 dan Sayyid Sabiq : 1985
Tentang Penulis:

Hardiansyah lahir di Curup pada Maret 1987. Menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Muhammadiyah Bengkulu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Saat ini menjabat sebagai Direktur Sekolah Langit Biru. Beberapa karya tulisnya adalah Kumpulan Cerpen Tuyul, Buku Sejarah Napak Tilas Sejarah Muhammadiyah Bengkulu. Karyanya berjudul Huru-Hara Berdarah di Benteng Kematian berhasil menjadi juara 1 dalam lomba cerita silat Harian Rakyat Bengkulu. Tulisannya juga tersebar di harian cetak seperti Rakyat Bengkulu, Majalah Suara Muhammadiyah dan media online dan beberapa proseding serta jurnal. Penulis dapat dihubungi melalui pos-el: banghardibengkuklu@gmail.com
Sumber: gambar depan dari internet